Simposium Seni, Ekologi, dan Masa Depan Iklim: Dari Narasi Emosional hingga Filosofi

Penandatanganan kerja sama antara Climate Futures Incubator dengan HONF dan UKDW
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta menjadi tuan rumah Mini Symposium “Art, Ecology & Climate Futures” pada Rabu (29/07/2026). Forum ini mempertemukan seniman, akademisi, peneliti, dan masyarakat untuk membicarakan keterhubungan seni, ekologi, dan masa depan iklim. Tidak hanya menjadi ruang diskusi, acara ini juga ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Climate Futures Incubator (CFI) dengan HONF dan UKDW, sebuah langkah strategis yang menegaskan komitmen kolaborasi lintas disiplin dalam menghadapi tantangan iklim.

img_title UGM Kembangkan TBScreen.AI untuk Percepat Skrining Tuberkulosis di Wilayah Terpencil

Dr Michael Chew dari Monash University memaparkan gagasan dari Mini Symposium, bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu teknis, melainkan pengalaman emosional dan naratif yang harus dirasakan bersama. Ia mengingatkan bahwa setiap tarikan napas manusia kini mengandung 50 persen lebih banyak karbon dioksida dibandingkan masa sebelum pembakaran bahan fosil. “Krisis iklim bukan hanya ‘di luar sana’, tetapi juga di dalam tubuh kita,” ujarnya.

Menurut Chew, manusia lebih mudah terhubung melalui cerita dan emosi ketimbang angka teknis. “Bukan sains yang mempengaruhi orang, melainkan cerita. Lebih dari itu, kesempatan untuk membuat cerita sendiri,” tegasnya. Melalui program Clinic Futures Incubators, ia bersama timnya menggabungkan kreativitas lintas budaya untuk membangun narasi baru tentang iklim.

img_title Pranoto Mongso: Membaca Musim Jawa dan Refleksi Iklim Modern

Pengalaman Chew selama hampir dua dekade di Bangladesh, India, China, dan Australia memperlihatkan bagaimana masyarakat rentan menghadapi dampak perubahan iklim. Ia menyoroti ketimpangan emisi antara negara maju dan berkembang dengan pernyataan, “Jika semua orang hidup seperti rata-rata warga Australia, kita butuh lima planet untuk menopang kehidupan.” Ia juga mengingatkan tentang konsep planetary boundaries—sembilan batas ekologis yang menentukan kemampuan bumi menopang kehidupan dan menegaskan bahwa tujuh di antaranya telah terlampaui. Baginya, solusi tidak bisa dicapai dengan pola pikir lama, melainkan dengan imajinasi baru.

Pembicara lain, seniman asal Bukit Tinggi, M  Fauzul Kiram, atau akrab disapa Pak Wul Kiram, menekankan pentingnya menjembatani ruang eksploratif seni dengan ranah akademis. “Praktik seni idealnya membangun relasi dengan ranah akademis. Pengetahuan yang diproduksi bisa diuji, dibongkar dari sudut pandang lain, lalu dimatangkan kembali,” ujarnya. Dalam presentasinya, Kiram membawakan teori Membaca Masa Lalu, Meneroka Masa Depan, yang terhubung dengan pameran tunggalnya di Sarang Building berjudul Museum Masa Depan. Pameran tersebut mencoba menggabungkan konsep museum—yang identik dengan masa lalu—dengan imajinasi masa depan. Menurutnya, seniman memiliki posisi unik dalam membahas persoalan besar dunia, termasuk isu iklim, karena sudut pandang seni mampu membuka cara baru dalam melihat persoalan global. Ia juga menyoroti perkembangan positif relasi seni dengan pasar dalam dua tahun terakhir, di mana pasar mulai menyediakan dana untuk riset dan praktik berbasis penelitian. “Outputnya bisa berupa karya seni yang lahir dari proses riset. Itu berita baik bagi seniman, terutama yang fokus pada seni media baru atau tiga dimensi,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Indonesia Masuki Krisis Iklim, Pembangunan Diminta Berbasis Daya Dukung Lingkungan