Air Mata Keluarga Pelaut Indonesia Pecah di Busan Setelah Bertahun Tahun Terpisah
- Viva Jogja
BUSAN, VIVA Jogja – Penantian panjang itu akhirnya berakhir.
Air mata haru mengalir saat keluarga pelaut Indonesia bertemu kembali dengan suami dan ayah mereka di Kota Busan, Korea Selatan.
Momen mengharukan itu berlangsung di Haemaru Hall, Busan Komodo Hotel.
Suasana berubah penuh pelukan, senyum, dan tangis bahagia setelah bertahun-tahun hanya saling menyapa melalui layar telepon.
Direktur Utama PT Inkor Dunia Samudera, Sulaiman Al Bugis, mengatakan program tersebut menjadi bentuk penghormatan bagi para awak kapal yang bekerja keras di Korea Selatan.
PT Inkor Dunia Samudera merupakan agen dari Dong Oh Trading di Korea Selatan.
Menurutnya, perusahaan juga ingin memastikan pelaut yang berangkat secara prosedural memperoleh perlindungan hak selama bekerja di luar negeri.
Direktur Utama PT Inkor Dunia Samudera, Sulaiman Al Bugis, mengirim keluarga pelaut Indoensia bertemu kepala keluarganya di Korea
- ist. Dok Pri
Salah satu keluarga yang merasakan kebahagiaan itu ialah Moh. Syaiful Haq, awak kapal asal Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Sang istri, Suraidah, bersama dua anak mereka, Sufriati dan Dofir Ramadhan, menjadi bagian dari program kunjungan keluarga pelaut Indonesia.
Bagi keluarga kecil itu, perjalanan menuju Korea bukan sekadar wisata.
Perjalanan tersebut menjadi jawaban atas rindu yang terus dipendam selama kepala keluarga bekerja mencari nafkah di negeri orang.
Sejak berangkat bekerja pada Mei 2024, Syaiful hanya dapat berkomunikasi melalui sambungan telepon dan panggilan video.
Jarak ribuan kilometer membuat setiap perayaan keluarga harus dilewati tanpa kehadiran sang ayah.
Kerinduan itu akhirnya terbayar ketika keluarga tiba di Busan.
Pelukan hangat menggantikan layar ponsel yang selama ini menjadi satu-satunya penghubung mereka.
Suraidah mengaku bersyukur dapat bertemu kembali dengan suaminya.
Ia juga berterima kasih kepada perusahaan yang membantu seluruh proses pemberangkatan hingga keluarganya bisa menginjakkan kaki di Korea Selatan.
"Sejak suami berangkat, kami hanya bisa telepon dan video call. Alhamdulillah sekarang akhirnya bisa bertemu kembali. Anak-anak juga bisa melepas rindu kepada bapaknya," ujar Suraidah dengan mata berkaca-kaca.
Program kunjungan keluarga itu menjadi bentuk apresiasi bagi para awak kapal.
Mereka telah bekerja keras menopang kebutuhan keluarga dari negeri yang jauh.