Pariwisata Dorong Stabilitas Ekonomi, Inflasi Yogyakarta Juli 2026 Tetap Terkendali
- Bing Image Creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Juli 2026 sebesar 2,83 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,68. Angka tersebut menunjukkan bahwa laju inflasi di Kota Yogyakarta masih terkendali di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata yang terus tumbuh. Sementara secara bulanan (month to month/m-to-m), Yogyakarta mengalami deflasi 0,17 persen, dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat 1,39 persen.
Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, dalam konferensi pers di Kantor BPS Yogyakarta, menjelaskan bahwa inflasi tahunan dipengaruhi oleh kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran. Di antaranya kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,59 persen; pakaian dan alas kaki 1,15 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,84 persen; perlengkapan rumah tangga 0,53 persen; kesehatan 2,56 persen; transportasi 5,34 persen; serta pendidikan 2,34 persen. Kenaikan pada sektor pendidikan, menurutnya, dipicu oleh dimulainya tahun ajaran baru. “Biaya akademi meningkat karena tahun ajaran baru. Komoditas yang memberi andil terbesar adalah uang sekolah SD dan SMP, masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen,” ujarnya.
Joko menambahkan bahwa kenaikan biaya pendidikan merupakan rata-rata dari seluruh satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta. Sekolah negeri umumnya tidak mengalami kenaikan, namun sekolah swasta menyesuaikan biaya operasional sehingga secara rata-rata tetap terlihat meningkat. Selain pendidikan, kelompok transportasi juga memberikan andil terhadap inflasi. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bensin pada Juli bukan karena penyesuaian harga baru, melainkan akibat metode penghitungan indeks. “Harga bensin sebenarnya tidak naik pada Juli. Namun karena kenaikan harga terjadi pertengahan Juni, rata-rata harga bulan Juli menjadi lebih tinggi dibanding Juni, sehingga secara perhitungan masih memberi andil sekitar 0,12 persen,” terangnya.
Meski beberapa kelompok pengeluaran mengalami kenaikan, sektor pariwisata justru menunjukkan tren positif yang membantu menjaga stabilitas ekonomi kota. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juni 2026 meningkat 5,54 poin dibanding Mei 2026 dan naik 8,11 poin dibanding Juni 2025. Sementara TPK hotel nonbintang naik 3,96 poin dibanding bulan sebelumnya dan meningkat 6,96 poin dibanding periode yang sama tahun lalu. “Kamar yang terpakai semakin banyak dibanding bulan sebelumnya maupun tahun lalu. Artinya indikator pariwisata Kota Yogyakarta masih membaik,” kata Joko.