Kemarau Panjang Picu Lonjakan Kasus ISPA di Sleman, Dinkes Imbau Warga Jaga Imunitas
- Ilustrasi ChatGPT
SLEMAN, VIVA Jogja – Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman, mulai berdampak pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) hingga mencapai 45 persen dibandingkan periode normal. Cuaca panas disertai debu dan fenomena bediding atau suhu dingin ekstrem di malam hari menjadi faktor utama yang memicu lonjakan kasus tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menjelaskan bahwa peningkatan kasus ISPA merupakan hal yang lazim terjadi pada masa transisi dari kemarau panjang menuju musim hujan. Namun, kondisi tahun ini dinilai lebih berat karena durasi kemarau yang panjang dan tingkat kekeringan yang tinggi. “Kami mengimbau masyarakat agar tetap melakukan perilaku hidup bersih dan sehat, itu yang paling penting. Kalau lingkungan bersih, masyarakat juga imunitasnya terjaga. Nah itu yang kami harapkan,” ujarnya, Sabtu (8/8/2026).
Cahya menekankan pentingnya menjaga imunitas tubuh dan kekebalan kelompok (herd immunity) agar masyarakat tidak mudah terserang penyakit. Ia juga mengingatkan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes melitus, jantung, dan hipertensi untuk segera melakukan vaksinasi influenza sebagai langkah pencegahan tambahan. “Apabila imunitas dan kekebalan kelompok terbentuk, tubuh kita akan lebih kuat menghadapi paparan penyakit,” tambahnya.
Selain imbauan menjaga kebersihan dan kesehatan, Dinkes Sleman telah melakukan berbagai langkah preventif dan promotif. Penyuluhan rutin digelar di tingkat kelurahan dan puskesmas untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pola hidup sehat. Menurut Cahya, penyakit ISPA masih menduduki peringkat pertama sebagai keluhan terbanyak di fasilitas kesehatan tingkat pertama. “Kami berharap supaya ini tidak menjadi rutinitas tiap tahun. Setiap kali kemarau panjang, kasusnya meningkat. Harus ada gerakan dari masyarakat untuk menjaga lingkungannya tetap sehat,” katanya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PL) Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus ISPA kali ini tergolong cukup tinggi. Dibandingkan hari-hari biasa, peningkatan kasus di musim kemarau ekstrem ini mencapai 30 hingga 45 persen. “Karena memang hujan tidak ada, debu banyak. Jadi orang gampang turun imunitas tubuhnya. Dan sekarang kemaraunya ekstrem, agak bediding istilahnya kalau di Jogja, dinginnya sangat,” jelasnya.