UIN Sunan Kudus Tancap Gas di Usia 60 Tahun, Dua Guru Besar Dikukuhkan dan Ambisi Baru Ditegaskan
- VIVAJogja
VIVAJogja – KUDUS, Enam dekade perjalanan UIN Sunan Kudushttps://uinsuku.ac.id menjadi penanda dimulainya babak baru perguruan tinggi Islam di kawasan Pantura Timur. Di tengah transformasi kelembagaan dari IAIN menjadi universitas, UIN Sunan Kudus mengukuhkan dua Guru Besar sekaligus menegaskan ambisi menjadi pusat keunggulan akademik, riset, dan intelektual yang mampu menjangkau tingkat nasional hingga internasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-60 UIN Sunan Kudus yang digelar di Gedung Laboratorium Terpadu, Senin (10/8).
Puncak peringatan enam dekade perjalanan kampus itu dirangkaikan dengan pengukuhan dua Guru Besar, peluncuran buku bunga rampai, pemberian penghargaan kepada mahasiswa berprestasi, serta apresiasi kepada tiga jurnal ilmiah yang berhasil meraih peringkat SINTA.
Dua akademisi yang dikukuhkan sebagai Guru Besar yakni Prof. Dr. Adri Effery, M.Ag. sebagai Guru Besar Bidang Kepemimpinan Pendidikan Islam dan Prof. Dr. Ma’mun Mu’min, M.Ag., M.Si., M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Ilmu Tafsir.
Rektor UIN Sunan Kudus, Prof. Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc., M.Si., menegaskan usia 60 tahun bukan sekadar angka perjalanan institusi, melainkan momentum untuk memperkuat arah masa depan.
Menurutnya, transformasi IAIN Kudus menjadi UIN Sunan Kudus pada Mei 2025 menjadi tonggak penting yang membawa mandat dan tanggung jawab lebih besar bagi institusi.
“Transformasi IAIN Kudus menjadi UIN Sunan Kudus bukan sekadar perubahan status kelembagaan. Ini adalah babak baru PTKIN Pantura Timur. Kita memasuki fase baru untuk menghadirkan perguruan tinggi Islam yang memiliki mandat keilmuan lebih luas dan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban,” ujar Prof. Dur saat Diwawancara VIVAJogja.
Ia menegaskan, perubahan status tersebut harus diikuti dengan lompatan kualitas, terutama dalam penguatan akademik, riset, inovasi, dan kualitas lulusan.
UIN Sunan Kudus, kata dia, tidak cukup hanya menjadi perguruan tinggi yang menjawab kebutuhan lokal. Kampus harus tumbuh menjadi pusat keunggulan akademik dan intelektual yang memiliki daya jangkau lebih luas.