UMKM Kuliner Jogja Didorong Masuk Ritel Modern dan Pasar Ekspor Lewat Kurasi Produk
- Dok Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Sebanyak 28 pelaku UMKM kuliner binaan Pemerintah Kota Yogyakarta mengikuti program kurasi kualitas produk yang digelar Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM (PerinkopUKM) melalui Bidang Usaha Mikro Kecil. Program ini difokuskan pada tiga produk khas Yogyakarta, yakni bakpia, minuman rempah, dan camilan ringan. Kurasi dilakukan dengan melibatkan ahli pangan, praktisi industri, serta pendamping UMKM, sehingga para pelaku usaha mendapat masukan langsung mengenai standar kualitas yang dibutuhkan untuk menembus ritel modern maupun pasar ekspor.
Kepala Dinas PerinkopUKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, menegaskan bahwa kurasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing UMKM sekaligus mempertemukan mereka dengan calon mitra usaha. “Kurasi ini kita lakukan agar produk UMKM Jogja makin enak, kemasannya makin menarik, dan standarnya makin siap. Tujuannya satu, agar mitra dan buyer tertarik untuk bekerja sama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penguatan kualitas produk menjadi penting agar UMKM Yogyakarta mampu bersaing di pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional.
Dalam proses kurasi, setiap pelaku UMKM membawa sampel produk dan mempresentasikannya di hadapan tim kurator. Penilaian mencakup rasa, kemasan, konsistensi kualitas, keamanan pangan, serta kesiapan produk memenuhi standar ritel modern, hotel, kafe, dan buyer. Data dari PerinkopUKM menunjukkan bahwa hingga pertengahan 2026, jumlah UMKM kuliner di Kota Yogyakarta mencapai lebih dari 4.500 unit usaha, dengan kontribusi signifikan terhadap sektor ekonomi kreatif daerah. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen sudah memiliki legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, dan sertifikasi halal, namun masih banyak yang perlu ditingkatkan agar bisa masuk ke jaringan distribusi yang lebih besar.
Salah satu peserta, Dwi Sudiantono, pemilik usaha Gubug Rempah, mengaku mendapat banyak masukan berharga dari proses kurasi. Usaha minuman rempah yang dirintis sejak 2018 itu kini dipasarkan melalui WhatsApp Business, Instagram, TikTok, Google Business Profile, toko oleh-oleh di Yogyakarta, serta reseller di marketplace. “Dapat masukan dari sisi buyer juga. Jadi tahu selera pasar dan standar yang dicari mitra. Rasanya seperti dikasih kelas privat,” katanya. Ia berencana memperbaiki kemasan dan meningkatkan kualitas produk agar lebih siap bersaing.