Pemkab Gunungkidul Intensifkan Distribusi Air Bersih, 37 Tangki Disalurkan ke Rongkop Hadapi Kemarau Panjang
- Humas Pemkab Gunungkidul
GUNUNGKIDUL, VIVA Jogja - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menyalurkan bantuan air bersih untuk warga yang terdampak kemarau panjang. Sebanyak 37 tangki air didistribusikan ke wilayah Kapanewon Rongkop yang dalam beberapa bulan terakhir mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, sebagai bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Dalam sambutannya, Joko menegaskan bahwa penanganan krisis air bersih menjadi prioritas utama pemerintah daerah. Ia menyebut bahwa distribusi bantuan dilakukan secara intensif ke berbagai titik yang paling terdampak. “Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus mengintensifkan distribusi bantuan air bersih ke wilayah terdampak kemarau panjang. Penanganan ini menjadi prioritas agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya.
Selain mengandalkan anggaran daerah dan dukungan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), pemerintah juga menjalin kerja sama dengan sejumlah donatur swasta untuk menjangkau wilayah yang belum terlayani jaringan air bersih. Langkah ini dilakukan agar distribusi bantuan lebih merata dan mampu menjangkau masyarakat di daerah terpencil. Data dari BPBD Gunungkidul menunjukkan bahwa pada musim kemarau 2025, lebih dari 60 ribu warga di 12 kapanewon mengalami kesulitan air bersih. Angka tersebut diperkirakan meningkat pada 2026 seiring dengan prediksi BMKG mengenai potensi El Niño kuat yang dapat memperpanjang musim kemarau hingga awal 2027.
Joko menambahkan bahwa penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan dalam jangka pendek melalui distribusi bantuan air, tetapi juga diarahkan pada solusi jangka panjang. Pemerintah bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah melakukan penelitian dan pencarian sumber mata air baru untuk memperluas akses infrastruktur air. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan tangki air setiap kali musim kemarau tiba. “Pemerintah berupaya menghadirkan solusi berkelanjutan agar masyarakat tidak terus-menerus bergantung pada bantuan air saat musim kemarau,” katanya.
Dampak kekeringan juga mulai dirasakan oleh sektor pertanian. Meski belum ada laporan gagal panen, para petani harus beradaptasi dengan kondisi cuaca yang berubah. Data Dinas Pertanian Gunungkidul mencatat bahwa luas lahan sawah yang terdampak kekeringan pada 2025 mencapai 1.200 hektare, dengan sebagian besar petani beralih menanam palawija yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Pemerintah daerah mengimbau agar petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim, sekaligus memanfaatkan teknologi irigasi hemat air untuk menjaga produktivitas.