Merah Putih Membentang di Malioboro, Yogyakarta Teguhkan Semangat Kebangsaan
- Dok Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Suasana kebangsaan kembali menggelora di jantung Kota Yogyakarta ketika bendera Merah Putih sepanjang 481 meter dibentangkan dari kawasan Tugu hingga titik nol kilometer. Aksi simbolis ini tidak hanya memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, tetapi juga menjadi penegasan atas semangat persatuan yang terus dijaga oleh masyarakat Yogyakarta. Ribuan warga bersama unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, serta komunitas masyarakat turut ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung meriah dan penuh makna.
Pembentangan bendera raksasa tersebut dilepas langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ngarsa Dalem menekankan pentingnya menjaga keberadaan Merah Putih sebagai simbol kebanggaan bangsa, terutama bagi generasi mendatang. “Harapan saya, publik, generasi ke depan, lebih mempertahankan keberadaan dan kebanggaannya,” ujarnya. Filosofi panjang bendera yang mencapai 481 meter pun sarat makna: angka empat melambangkan empat penjuru mata angin, sementara angka 81 merujuk pada usia kemerdekaan Indonesia tahun ini.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasi kepada Korem 072/Pamungkas dan seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya acara. Menurutnya, Merah Putih Malioboro bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkokoh rasa cinta tanah air. “Pembentangan bendera sepanjang 481 meter ini memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding ukuran fisiknya. Ia adalah pengingat akan perjuangan para pahlawan sekaligus simbol persatuan yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Hasto menambahkan, Merah Putih adalah milik seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang suku, agama, pekerjaan, pangkat, maupun latar belakang. Di bawah Sang Saka, semua masyarakat memiliki identitas yang sama sebagai bangsa Indonesia. Penyelenggaraan kegiatan di Malioboro, lanjutnya, memiliki makna istimewa karena kawasan tersebut setiap hari menjadi ruang perjumpaan warga lokal, wisatawan, pedagang, seniman, pelajar, hingga masyarakat dari berbagai daerah. “Keberagaman yang hadir di kawasan ini adalah gambaran nyata Indonesia yang majemuk. Melalui kegiatan Merah Putih Malioboro, seluruh unsur masyarakat dipersatukan dalam satu semangat yang sama, yakni semangat Merah Putih,” katanya.
Kegiatan ini juga menjadi refleksi bahwa persatuan bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata yang harus terus dirawat. Hasto menekankan bahwa kebersamaan yang terbangun dalam acara ini adalah cerminan semangat Indonesia sesungguhnya: saling menghormati, saling membantu, dan berjalan bersama menghadapi tantangan. Ia berharap semangat kebersamaan tersebut tidak berhenti setelah acara selesai, melainkan terus hidup dalam keseharian masyarakat.