PNIB Bentangkan Merah Putih 300 Meter di Jombang, Semarak Kemerdekaan dan Muktamar NU
- Istimewa
VIVA Jogja - Suasana Kota Santri mendadak dipenuhi warna merah putih ketika ratusan massa dari Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menggelar kirab bendera sepanjang 300 meter. Kain Merah Putih itu diarak sejauh empat kilometer, mulai dari Monumen Ringin Contong hingga Alun-Alun Jombang, pada Minggu pagi. Aksi ini tidak hanya menjadi tontonan warga, tetapi juga simbol kebangsaan yang sarat makna, digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus menyambut Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Kirab tersebut melibatkan ribuan partisipan dari berbagai unsur, mulai dari santri, pendekar Pagar Nusa, Padepokan Lingpasraga, Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi NU Jawa Timur, hingga masyarakat umum. Kehadiran mereka menambah semarak perayaan kemerdekaan sekaligus memperkuat nuansa religius dan kebangsaan di Jombang. Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar perayaan, melainkan simbol empati nasional dan pengingat sejarah perjuangan bangsa.
“Acara kirab kali ini untuk memperingati hari sakral Proklamasi 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan bangsa. Selain itu juga dalam rangka menyambut Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Jombang. Kirab ini merupakan bentuk solidaritas, empati, dan simpati untuk saudara-saudara kita di Flores, NTT yang kemarin mengalami musibah gempa bumi. Duka Flores NTT adalah duka kami dan duka seluruh Indonesia,” ujar Gus Wal.
Ia menekankan pentingnya mengingat kembali semangat sejarah melalui prinsip Jasmerah dan Jashijau. Jasmerah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah, dan Jashijau, Jangan Sekali-kali Hilangkan Jasa Ulama, menjadi pengingat peran besar para pendahulu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Gus Wal menilai generasi sekarang harus terus diingatkan agar tidak melupakan sejarah atau terjebak dalam ideologi sesat yang berpotensi memecah belah bangsa.
Selain membawa pesan kebangsaan, PNIB juga memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan kewaspadaan terhadap ancaman radikalisme, intoleransi, dan disintegrasi bangsa. Menurut Gus Wal, intoleransi adalah akar dari berbagai bentuk kejahatan sosial seperti radikalisme, anarkisme, terorisme, dan premanisme. “Intoleransi adalah ibu kandung dari aksi radikalisme, anarkisme, terorisme, dan premanisme. Semua merupakan musuh rakyat yang tidak terlihat namun nyata terjadi. Ancaman disintegrasi bangsa muncul dari perilaku tersebut yang dibiarkan tumbuh subur. Kita jangan pernah takut, kita harus melawan mereka segelintir para provokator,” tegasnya.