Dinkes Kulonprogo Temukan Risiko Tinggi Keracunan MBG dari Menu Ayam Saus Barbeque
- bing image creatif
KULONPROGO, VIVA Jogja – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulonprogo mengungkap hasil investigasi laboratorium dan analisis epidemiologi terkait dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa siswa SMP Negeri 3 Wates. Berdasarkan hasil analisis multivariat, menu ayam saus barbeque menjadi faktor risiko tertinggi dengan nilai adjusted odds ratio mencapai 10,47. Artinya, siswa yang mengonsumsi menu tersebut memiliki kemungkinan sepuluh kali lipat lebih besar mengalami gejala keracunan dibandingkan dengan menu lainnya.
Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, menjelaskan bahwa pemeriksaan laboratorium terhadap sampel muntahan dan feses siswa menunjukkan adanya sejumlah bakteri patogen yang berpotensi menyebabkan gangguan pencernaan. “Dari sampel muntahan ditemukan bakteri Staphylococcus aureus, Enterobacter, Klebsiella pneumoniae, Streptococcus, dan Serratia. Sedangkan dari feses ditemukan E. coli patogen,” ujarnya, Rabu (19/8/2026). Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kontaminasi bakteri menjadi penyebab utama gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
Gejala yang dialami siswa meliputi nyeri perut, mual, muntah, dan diare. Menurut Susilaningsih, pola gejala tersebut sesuai dengan infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan E. coli. Namun, pemeriksaan terhadap sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghadapi kendala teknis karena jumlah sampel yang tersisa terlalu kecil untuk memenuhi standar pemeriksaan laboratorium. Akibatnya, analisis epidemiologi menjadi dasar utama untuk menelusuri hubungan antara jenis makanan dan risiko keracunan.
Dari hasil analisis statistik, ayam saus barbeque menunjukkan hubungan paling signifikan dengan kasus keracunan. “Nilai adjusted odds ratio sebesar 10,47 dengan p-value kurang dari 0,001 menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara konsumsi ayam barbeque dan kejadian keracunan,” tegas Susilaningsih. Hasil ini menjadi acuan bagi Dinkes dalam menyusun rekomendasi pencegahan agar kasus serupa tidak terulang.
Selain faktor kontaminasi, Dinkes Kulonprogo juga menyoroti aspek manajemen waktu dan suhu dalam proses pengolahan makanan di SPPG. Berdasarkan kronologi penyelidikan, bahan baku ayam mulai dimasak sekitar pukul 03.00 WIB dan proses memasak berlangsung selama 45 menit. Namun, distribusi makanan baru selesai sekitar pukul 09.30 WIB tanpa adanya label batas aman konsumsi. Artinya, makanan disimpan pada suhu ruang selama lebih dari empat jam, kondisi yang memungkinkan pertumbuhan bakteri patogen. “Jeda waktu antara memasak dan distribusi menjadi perhatian utama karena suhu ruang dapat mempercepat kontaminasi,” jelasnya.