Sri Paus Fransiskus Keteladanan akan Keberpihakan pada Kaum Miskin dan Tertindas
- Dok Humas UGM
VIVA Jogja - Meninggalnya Sri Paus Fransiskus pada Senin, 21 April 2025 mengundang duka mendalam dari kalangan umat Katolik di seluruh dunia dan juga tokoh-tokoh agama lainnya. Sebagai pemimpin umat Katolik sedunia yang dikenal karena pesan-pesan perdamaian dan kepedulian terhadap kemanusiaan, kepergian Sri Paus Fransiskus memicu refleksi dan penghormatan dari lintas agama. Para tokoh agama turut menyampaikan belasungkawa sekaligus mengenang warisan spiritual dan sosial yang ditinggalkannya.
Dosen Program Doktor Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM), Dr Dicky Sofjan, yang pernah bertemu dengan Sri Paus Fransiskus pada pertengahan tahun 2024 lalu, dalam konferensi yang diselenggarakan oleh organisasi Focolare, sebuah gerakan sosial keagamaan yang berbasis di bawah naungan Vatikan, menyatakan bahwa satu hal yang paling membekas dari Sri Paus Fransiskus adalah kepedulian dan keterbukaannya terhadap komunitas di luar Katolik, khususnya terhadap umat Muslim.
Sri Paus Fransiskus selalu memiliki keinginan yang tulus untuk membangun jembatan antara komunitas Katolik dan Muslim. Ini terbukti dari kunjungannya ke berbagai negara mayoritas Muslim seperti di Timur Tengah, Afrika Utara, Asia, dan termasuk Indonesia yang ia kunjungi tahun lalu. Lebih lanjut, ia menyoroti dokumen persaudaraan (Fraternity Document) yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Grand Syaikh dari Al-Azhar, Mesir, pada tahun 2019. Dokumen tersebut menjadi simbol penting dalam membangun kerja sama lintas agama. “Bagi saya ini merupakan lompatan teologis yang besar. Sri Paus Fransiskus juga mengakui bahwa keselamatan tidak hanya eksklusif untuk umat Katolik, tapi juga bisa diraih oleh umat agama lain,” ujarnya.
Di samping itu, Dr. Dicky juga menyoroti intensitas kepedulian seorang pemimpin spiritual yang sesungguhnya dari Sri Paus Fransiskus. Keberpihakan Sri Paus Fransiskus terhadap kaum miskin dan tertindas, termasuk apa yang terjadi dengan masyarakat Palestina sangat membekas di hati Dr. Dicky. Sri Paus Fransiskus secara konsisten mengecam agresi Israel dan selalu membela rakyat Palestina. “Ia bahkan rutin menelepon pemimpin Katolik di Gaza selama perang untuk memastikan kondisi komunitas di sana apakah aman,” kenangnya.