Pupuk Hayati Limbah Pabrik Gula, Tingkatkan Produktifitas Tanaman
- istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Sebuah inovasi produk hayati berupa pupuk nutrisi tanaman dan probiotik untuk peternakan serta perikanan, baru-baru ini diperkenalkan oleh PT Senopati Agung Semesta (SAS) untuk para petani.
Produk yang dihasilkan dari limbah pabrik gula dengan merek dagang Puca Madu, Guru Tani, Bio Ratu dan Pro Bio-XL ini, diyakini sedikit banyak mampu menekan biaya produksi pertanian dan peternakan secara langsung pada pemakaian pertama.
Dalam paparannya Tobias Santosa, staf edukasi PT SAS menyatakan, produk pupuk hayati Bio Ratu majemuk Granule mampu mengurangi kebutuhan pemakaian produk kimia sebesar 50%. Menurutnya, di beberapa lahan yang mengaplikasikan pupuk Bio Ratu Majemuk Granule 100%, produksi padi yang biasanya berkisar 6-7 ton per-hektarnya, meningkat hingga 9-11 ton.
Tobias membenarkan, negara agraris seperti Indonesia masih mengimpor bahan pangan dari luar negeri, dan dengan keberadaan inovasi di bidang pertanian dan peternakan itu, produksi bahan pangan akan terpenuhi.
Meski pemerintah juga sudah banyak menerapkan sistem subsidi untuk pertanian dan peternakan, namun tetap ditemui petani dalam kesulitan mengakses pupuk dan bibit. Dengan inovasi ini, kelangkaan pupuk, distribusi pupuk bersubsidi yang tidak tepat, tidak akan menghalangi tingkat produksi pertanian dan peternakan, sekaligus memberi solusi untuk menekan beban produksi.
“Produk pupuk hayati cair Puca Madu dan Guru Tani satu (1) liter bisa diaplikasikan untuk 20 kali penyemprotan tanaman semusim atau diaplikasikan pada 25-40 tanaman keras,” paparnya.
Selain produk pupuk hayati juga diperkenalkan produk insektisida dan pestisida hayati yang ramah lingkungan. “Produk PT. SAS baik Puca Madu, Guru Tani, Bio Ratu dan Bio-XL sudah bisa didapatkan secara daring di marketplace yang ada” unglkap Alvin Wicaksono manager pemasaran PT SAS.