Konflik Mitra dan Aplikator Menteri UMKM Siap Jaga Ekosistem

Ekosistem ekonomi digital harus tetap kondusif
Sumber :
  • canva image

VIVA Jogja – Menyikapi polemik yang terjadi pada kehidupan para pengemudi ojek dan driver online, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menegaskan komitmen Kementerian UMKM untuk menciptakan ekosistem kemitraan yang kondusif antara pengemudi ojek online, aplikator, dan merchant UMKM.

img_title Pemkot Yogyakarta Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026 dengan Data Jujur dan Akurat

Hal itu disampaikan Maman Abdurrahman, saat setelah beraudiensi dengan manajemen Maxim di Jakarta, Selasa (21/05/202) lalu.

“Kementerian UMKM berkepentingan menjaga stabilitas dan kondusivitas industri transportasi online, termasuk hubungan antara aplikator dengan pengemudi ojek online serta merchant UMKM di dalamnya,” kata Maman Abdurrahman.

img_title Optimisme Kerja Menurun, Ketidakpastian Ekonomi Jadi Sorotan

Menurutnya, factor yang paling penting adalah bagaimana menjaga ekosistem digital UMKM, yang mana pengusaha UMKM seperti penjual makanan, minuman, dan toko kelontong, juga  sangat bergantung pada layanan pengantaran dari ojek online.

“Ekosistem digital kita jangan sampai terganggu hanya karena polemik tarif. Kami ingin agar semua pihak saling memahami, karena aplikator dan pengemudi ojek online saling membutuhkan. Tanpa salah satu di antara itu, roda ekonomi digital tak akan berputar,” katanya.

img_title 383 Jamaah Haji Kulonprogo Disambut Hangat, Pemkab Siapkan Peningkatan Layanan Haji 2027

Menteri Maman menambahkan, fleksibilitas kemitraan ini menjadi solusi terbaik yang berpihak pada keberlangsungan usaha, kesejahteraan mitra pengemudi, dan pertumbuhan UMKM di ruang digital.

Menganggapi isu terkait demonstrasi transportasi online yang terjadi, salah satunya terkait tuntutan tarif potongan 10 persen, Menteri Maman mengajak semua pihak untuk tidak berpolemik.

“Tidak perlu berpolemik. Kalau ada yang kurang berkenan dengan skema tarif di satu aplikator, bisa beralih ke pilihan lain yang lebih sesuai, prinsipnya fleksibilitas untuk semua,” katanya.

Dikatakan, setiap aplikator memang memiliki kebijakan tarif bagi hasil yang berbeda, dan fleksibilitas ini harus dijaga. Ia mencontohkan, mitra ojek online yang menginginkan potongan tarif 10 hingga 13 persen dapat memilih aplikasi seperti Maxim atau Indrive.

Kementerian UMKM sedang mengusulkan pembentukan koperasi kemitraan bagi mitra ojek online di tiap aplikator. Koperasi ini diharapkan menjadi wadah penguatan ekonomi kolektif mitra ojek online, termasuk dalam pengadaan atribut kerja seperti jaket dan helm, serta layanan simpan pinjam atau usaha lainnya. “Dari koperasi, kita bisa mendorong semangat usaha dari anggota untuk anggota. Ini juga sejalan dengan gagasan Koperasi Merah Putih yang sedang Pemerintah galakkan,” ucap Menteri UMKM.

Halaman Selanjutnya
img_title