Driver JogjaKita hanya Dipotong 6%, Jalankan Prinsip Menghargai Orang

Aplikator JogjaKita hanya potong driver 6%
Sumber :
  • istimewa

YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Manajemen aplikasi angkutan barang dan orang daring JogjaKita, menerapkan skema bisnis yang menguntungkan para mitra-mitranya, bahkan pengendara atau driver ojek online mendapatkan pemotongan biaya perjalanan di bawah aturan pemerintah, atau mendapatkan 96 persen dan bagi mitra resto, tanpa pemotongan sama sekali.

img_title Pemkot Yogyakarta Gelar Seleksi Beasiswa Prestasi Kelurahan 2026, Nilai TKA dan TKAD Jadi Penentu

Founder sekaligus Komisaris JogjaKita, Ibnu Sunanto menjelaskan, JogjaKita tidak membebankan biaya apaun atau tidak melakukan pemotongan terhadap para mitra bisnis, seperti restoran yang menjadi merchand JogjaKita.

"Full seratus persen kita berikan kepada mitra bisnis atau resto, kami tidak memotong sama sekali," ujarnya dalam keterangan tertulisnya.

img_title Festival Jamu Nusantara Dorong Tradisi Minum Herbal Jadi Gaya Hidup Modern

Sedangkan untuk sistem bagi hasil dengan pengendara atau driver ojol, tambah Ibnu, pihaknya hanya memotong sebanyak enam persen, sisanya menjadi hak dari para pengendara ojol JogjaKita.

"Kita hanya melakukan pemotongan enam persen, sisa 94 persen menjadi hak driver sepenuhnya," katanya.

img_title Pemkot Yogya dan Diwa Foundation Bedah Rumah, Prioritaskan Hunian Layak bagi Disabilitas

Diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan aturan, bahwa aplikator hanya boleh memotong 15 persen dari biaya perjalanan. "Pemotongan yang JogjaKita lakukan dibawah peraturan dari pemerintah," katanya.

Dijelaskan Ibnu, pihaknya menerapkan Langkah tersebut mengingat, JogjaKita merupakan perusahaan aplikator lokal yang dijalankan dengan memegang prinsip nasionalisme, yang terbukti dengan tidak adanya keterlibatan pihak asing dalam menjalankan bisnis ini.

Selain itu, pengalaman Ibnu sejak tahun 2009 menggawangi perusahaan bisnis digital menjadi nilai lebih dalam menjalankan bisnis aplikator on demand services ini. "Selain prinsip nasionalisme, hal lain yang patut dijalankan adalah ideologi ekonomi dan budaya," katanya.

Budaya disini menurut Ibnu tidak hanya dalam berkesenian, namun menghargai seseorang dalam bekerja itu juga merupakan satu budaya yang berangsur punah saat ini. "Semuanya mengakar pada budaya, itulah prinsip yang kami jalankan, nasionalisme, ideologi ekonomi, dan budaya," ucapnya.

Mampu bertahan selama empat tahun membuat aplikator lokal Yogyakarta ini telah memiliki sekitar 1.200 driver dan ratusan mitra restoran yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. "Saat ini konsentrasi kami masih di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul, kedepannya Gunungkidul dan Kulonprogo," katanya.

Dengan sistem bagi hasil yang menguntungkan para mitra pengemudinya, tentunya JogjaKita menjadi lahan pencipta lapangan kerja di Yogyakarta.

Halaman Selanjutnya
img_title