Puluhan SD Negeri di Kudus Kekurangan Murid, Samani Putar Otak Cari Solusi

Bupati Samani perintahkan Disdikpora Kudus evaluasi factor minim siswa
Sumber :

KUDUS, VIVAJogja- Menyusutnya minat orang tua mendaftarkan anak-anak mereka ke Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Kudus, membuat puluhan SD di wilayah setempat kekurangan murid.

img_title Bupati Kudus dan Gubernur Jateng Serahkan BLT DBHCHT kepada Buruh Rokok

Kondisi memprihatinkan yang terus saja terjadi setiap tahun ajaran baru ini, memaksa Bupati Kudus Sam’ani Intakoris memutar otak mencari solusi atas persoalan ini.

Bupati Samani pun memerintahkan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, segera mengambil langkah strategis menyikapi kondisi itu.

img_title Sambut 1 Muharam 1448 H, Pemkab Kudus Gelar Doa Bersama

Bupati Samani berbincang dengan guru di SD Negeri 1 Adiwarno

Photo :
  • -

Instruksi itu terungkap saat Bupati Samani meninjau SD Negeri 1 Adiwarno, di Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo baru-bari ini.  Di sekolah setempat ternyata tidak ada sama sekali siswa baru yang mendaftar pada tahun ajaran baru ini.

img_title Bacakan Pidato Kepala BPIP, Bupati Kudus Ingatkan Pancasila Bukan Sekadar Simbol

“Kami minta Disdikpora melakukan kajian menyeluruh, termasuk survei ke guru dan kepala sekolah, untuk mengetahui penyebab minimnya jumlah siswa. Hasilnya nanti akan dianalisis sebagai dasar penyusunan kebijakan,” ujar Sam’ani.

Berdasarkan diskusi dengan sejumlah guru, kata Samani, ada beberapa faktor yang diduga mmicu orang tua enggan menyekolahkan anaknya di SD Negeri.

“Salah satunya karena SD swasta banyak yang memiliki jam pulang lebih sore, bahkan setelah pukul 14.00 WIB. Bagi orang tua yang bekerja, sekolah sekaligus menjadi tempat menitipkan anak hingga sore,” ungkap Samani.

Faktor penyebab lainnya, imbuh Samani, banyak orang tua yang bekerja di kawasan kota memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang lokasinya dekat dengan tempat kerja, agar lebih mudah dalam antar-jemput.

Sam’ani menegaskan bahwa kajian lebih mendalam tetap diperlukan agar akar persoalan benar-benar diketahui.

“Solusinya bisa berupa regrouping (penggabungan sekolah) atau kebijakan lainnya. Beberapa desa sudah melaksanakan regrouping dan sejauh ini tidak ada kendala,” katanya.

Untuk diketahui, SD Negeri 1 Adiwarno menjadi salah satu sekolah yang tidak mendapatkan murid baru sama sekali. Bahkan total siswa dari kelas I hingga VI hanya berjumlah 25 anak.

Di kompleks yang sama, terdapat SD Negeri 2 Adiwarno dan SD Negeri 1 Kesambi, yang bangunannya saling berdekatan. Namun ketiga sekolah tersebut masih dapat menjaring siswa baru.

Halaman Selanjutnya
img_title