Prosesi Budaya Peringatan Hari Jadi Wonosobo ke-200 : Pisowanan Agung hingga Cukur Rambut Gimbal

Prosesi cukur rambut gimbal warnai perayaan Hari Jadi Wonosobo.
Sumber :
  • Ari Sunandar

WONOSOBO, VIVAJogja - Semarak dua abad Kabupaten Wonosobo tak hanya terasa dalam gemuruh antusiasme warga di Alun-alun saja. Namun juga melalui serangkaian prosesi budaya yang penuh makna.

img_title Khitan Massal dan Pengobatan Gratis IKA UNAIR Diserbu Warga Wonosobo, Bupati Dorong Pelajar Berani Kuliah

Peringatan Hari Jadi ke-200 Kabupaten Wonosobo, Kamis (24/07/2025), menjadi momentum perayaan identitas lokal sekaligus penghormatan pada akar budaya yang masih lestari.

Hari Jadi Wonosobo pelestarian identitas budaya lokal.

Photo :
  • Ari Sunandar

img_title Perkuat Dokumen Usulan Pahlawan Nasional, Trah Sultan Hamengkubuwono II dan Pemkab Wonosobo Gelar Audiensi
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Wonosobo, Agus Wibowo mengungkapkan, rangkaian
Pisowanan Agung
img_title Wonosobo Expo 2026 Resmi Dibuka, Jadi Media Strategis Tingkatkan Daya Saing UMKM Kabupaten Wonosobo
dimulai dengan pengembalian bendera panji-panji daerah dari tokoh masyarakat Kaliwiro kepada Bupati Wonosobo dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Panji-Panji Daerah diserahkan oleh Camat Kaliwiro, Danramil, Kapolsek, dan Sekcam Kaliwiro kepada Bupati, Dandim 0707, Kapolres, dan Ketua DPRD. Prosesi ini dimaknai sebagai simbol penyatuan amanah masyarakat kepada para pemimpin daerah.

Usai pengembalian panji, prosesi dilanjutkan dengan ritual Birat Sengkala. Yakni dimana Bupati Wonosobo memercikkan air dari tujuh mata air ke empat penjuru mata angin. Air yang digunakan berasal dari sumber mata air sakral yang tersebar di wilayah Wonosobo.

"Prosesi ini merupakan simbol spiritual untuk memohon perlindungan dan keberkahan bagi seluruh wilayah Wonosobo," jelas Agus Wibowo.

Makna perlindungan dan kemakmuran tercermin kuat dalam Birat Sengkala, sekaligus menandai berakhirnya prosesi Pisowanan Agung dan beralih pada agenda berikutnya, yaitu Kembul Bujana.

Kembul Bujana menjadi tradisi yang sangat dinanti masyarakat. Dalam ritual ini, makanan yang dibawa secara kolektif dibagikan kepada warga yang hadir di alun-alun. Sajian ini menjadi lambang kebersamaan, rezeki, dan rasa syukur atas usia dua abad Wonosobo.

Acara juga diramaikan dengan Grebeg Gunungan Sayur, di mana masyarakat berlomba mengambil hasil bumi dari gunungan yang disiapkan panitia. Gunungan ini mencerminkan kekayaan alam Wonosobo sekaligus harapan akan panen yang terus melimpah.

Momentum ini turut dimeriahkan dengan atraksi penerjun payung dari AirNav yang mengibarkan tiga bendera penting: Merah Putih, Lambang Kabupaten Wonosobo, dan bendera AirNav Indonesia. Momen ini menyedot perhatian ribuan pasang mata di lapangan utama Alun-Alun Wonosobo.

Tak kalah menarik, pentas kesenian tradisional digelar secara kolaboratif. Tarian Kuda Kepang, Tari Lengger, hingga parade busana pengantin adat Setjonegaran tampil memukau. Penampilan tersebut dibawakan oleh Kelompok Kesenian Pager Tawon, Harpi Melati, dan Kuda Kepang lokal.

Halaman Selanjutnya
img_title