Miris, 512 Anak Terjangkit Stunting, Pemkot Magelang Kerahkan Strategi Keroyokan

Ibu-ibu berdialog dengan Walikota Magelang saat kelas orangtua hebat
Sumber :
  • ari sunandar

KOTA MAGELANG, VIVAJogja - Stunting masih menjadi salah satu tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Tak terkecuali di Kota Magelang, yang mencatat prevalensi stunting sebesar 15,3 persen, atau setara dengan sekitar 512 anak.

img_title ASN Harus Jadi Pelayan yang Ikhlas, Magelang Punya Potensi Besar Seperti Singapura

Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono menyatakan, bahwa upaya penanganan stunting tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja.

Pemerintah Kota Magelang, menurutnya, telah mengerahkan seluruh elemen untuk bekerja bersama menekan angka stunting melalui pendekatan yang disebutnya sebagai intervensi model 'keroyokan'. 

img_title Stunting Bikin Pusing, Pemkot Magelang Luncurkan GENTING

Walikota Damar gendong balita saat program kelas orang tua hebat

Photo :
  • ari sunandar

"Kami mendorong intervensi model ‘keroyokan’. Setiap organisasi perangkat daerah (OPD), pelaku usaha, dan warga harus ikut serta," tegas Damar.

img_title Kinerja Disdukcapil Magelang Capai 100 Persen, Aktivasi IKD Baru 38 Persen

Dalam strategi ini, Pemkot Magelang tidak hanya fokus pada angka, tetapi juga pada validitas data dan pemetaan kasus. Anak-anak yang berisiko mengalami stunting akan dikelompokkan berdasarkan kelurahan, sehingga penanganannya dapat lebih cepat dan tepat.

Pendataan dilakukan secara detail terhadap kelompok sasaran utama, yakni balita, ibu menyusui, dan ibu hamil. Data ini nantinya akan menjadi rujukan utama bagi puskesmas, posyandu, serta petugas pendamping dalam merancang intervensi gizi dan kesehatan secara spesifik.

"Data ini penting untuk mempermudah intervensi status gizi secara spesifik di suatu wilayah," imbuh Damar.

Damar juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengenali dan melaporkan kasus stunting di lingkungan masing-masing.

Menurutnya, kepedulian sosial menjadi fondasi utama dalam membangun ekosistem keluarga yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam proses pengasuhan, terutama dalam konteks pencegahan stunting yang selama ini cenderung dibebankan kepada ibu.

"Peran seorang Bapak juga diperlukan dalam merawat tumbuh kembang anak," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang, dr. Istikomah, menyatakan bahwa langkah pencegahan tetap menjadi fokus utama.

Namun untuk kasus yang sudah ada, pihaknya menerapkan intervensi konvergensi, yakni pendekatan yang melibatkan berbagai sektor dan menyesuaikan dengan penyebab spesifik dari masing-masing kasus.

"Tidak semua anak stunting karena gizi buruk. Ada yang karena sanitasi buruk, penyakit kronis, atau pola asuh yang kurang tepat," jelas Istikomah.

Halaman Selanjutnya
img_title