Ancaman Krisis Air Bersih Bayangi Warga Gunungkidul di Musim Kemarau
- bing image creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Musim kemarau mulai berdampak pad sejumlah wilayah di Kabupaten Gunungkidul, khususnya ketersediaan air bersih yang mengancam ribuan 24.137 warga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, menyebutkan meski disebut sebagai kemarau basah, karena masih ada hujan ringan di beberapa wilayah, penyaluran bantuan air tidak seintens tahun-tahun sebelumnya. Namun, potensi kekurangan air tetap menjadi perhatian utama
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi, menyampaikan bahwa proses pendataan masih berlangsung. Ia memperkirakan jumlah warga terdampak akan terus bertambah seiring laporan dari wilayah lain yang belum masuk. Hingga akhir Juli, baru tujuh kapanewon yang melaporkan kondisi rawan kekeringan, yaitu Tanjungsari, Girisubo, Karangmojo, Panggang, Saptosari, Rongkop, dan Ponjong.
“Angka ini masih bisa berubah karena sebelas kapanewon lainnya belum menyerahkan laporan,” ujar Sumadi, Minggu (03/08/2025).
Meski belum ada permintaan resmi untuk droping air, BPBD telah menyiapkan 1.500 tangki air bersih sebagai langkah antisipatif. Sumadi mengimbau pemerintah kapanewon segera mengirimkan data kekeringan sebagai dasar penyaluran bantuan.
“Kemarau tahun ini tergolong kemarau basah, sehingga permintaan air belum banyak. Namun kami tetap siaga dengan armada tangki,” tambahnya.
Di tingkat lokal, sejumlah wilayah mulai mengambil langkah konkret. Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Girisubo, Giyatno, memetakan empat kalurahan yang diperkirakan membutuhkan bantuan air bersih: Songbanyu, Pucung, Jerukwudel, dan Nglindur.
Pemerintah kapanewon telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp75,6 juta untuk pengadaan air bersih, dan penyaluran mulai dilakukan pekan ini. Prioritas diberikan kepada warga yang belum terakses layanan PDAM, mengingat distribusi air perpipaan di wilayah tersebut masih belum merata dan sering mengalami gangguan.
“Instalasi PDAM memang sudah masuk, tetapi distribusinya belum lancar. Saat kemarau seperti sekarang, banyak warga yang akhirnya bergantung pada bantuan air bersih,” pungkas Giyatno.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pun telah menggelar Apel Siaga Bencana Hidrometeorologi Kering sebagai bentuk kesiapsiagaan lintas sektor.
Bupati Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan bahwa perubahan iklim yang semakin ekstrem menuntut kesiapsiagaan penuh. “Kebersamaan dan sinergi seluruh pihak akan menjadi kekuatan utama kita dalam menghadapi musim kemarau yang penuh tantangan ini,” ujarnya.