One Side EssilorLuxottica Foundation Gelar MMO Vision Screening: Seribu Warga Yogyakarta Terima Kacamata Gratis
- jogja.viva.co.id/Fuska Sani Evani
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - One Side EssilorLuxottica Foundation bekerja sama dengan Atrio, Akademi Optometri Yogyakarta, sukses menyelenggarakan kegiatan tahunan bertajuk MMO Vision Screening Event yang memberikan layanan pemeriksaan mata dan pembagian kacamata gratis kepada seribu (1.000) penerima manfaat dari berbagai kalangan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serba Guna Adisutjipto Yogyakarta pada Kamis (21/08/2025) ini menyasar pelajar dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK, serta masyarakat umum, termasuk lansia. Para peserta mendapatkan pemeriksaan mata menyeluruh dan menerima kacamata sesuai kebutuhan, mulai dari kacamata baca, kacamata minus, hingga kacamata hitam (sunglasses) sebagai bentuk pencegahan terhadap gangguan penglihatan akibat paparan sinar matahari.
Pemilihan lokasi di Yogyakarta bukan tanpa alasan. Program MMO merupakan bagian dari inisiatif beasiswa yang diberikan oleh One Side kepada mahasiswa Optometri di Atrio. Para penerima beasiswa tersebut kini turut berkontribusi sebagai relawan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, didampingi oleh staf internal EssilorLuxottica dan organisasi profesi Optometri seperti Iropin.
“Kami ingin menciptakan generasi yang bebas dari gangguan penglihatan. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya memberikan bantuan langsung, tapi juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mata,” ujar Andi Muhammad Arief, Project Manager One Side EssilorLuxottica Foundation
Kolaborasi dengan Kemenkes dan Dinas Kesehatan
Kegiatan ini turut melibatkan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan setempat, LLDIKTI, serta organisasi lokal Optometri. Rencananya, One Side akan menjalin kerja sama lebih lanjut dengan Kemenkes untuk memperluas jangkauan program ini ke daerah-daerah lain secara berkala setiap bulan.
Dengan target jangka panjang untuk mengeliminasi gangguan penglihatan dalam satu generasi, One Side berharap masyarakat, khususnya lansia, dapat memahami bahwa usia bukanlah batas untuk tetap memiliki penglihatan yang baik. Kacamata bukan sekadar alat bantu, tetapi juga sarana untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup.
“Banyak ibu-ibu yang merasa bahwa usia 50 ke atas adalah akhir dari kemampuan melihat. Padahal, dengan kacamata yang tepat, mereka masih bisa menjahit, bekerja, dan beraktivitas seperti biasa,” tambah Andi.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan, organisasi sosial, dan pemerintah dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat, sekaligus membangun kesadaran kolektif akan pentingnya kesehatan mata.