Wamenlu : Politik Luar Negeri Indonesia Harus Percaya Diri
- Humas UMY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M., menyerukan perlunya sikap percaya diri dalam menjalankan politik luar negeri Indonesia. Dalam kuliah umum yang digelar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (22/08/2025), Havas menegaskan bahwa Indonesia harus tampil sebagai kekuatan kawasan yang diperhitungkan di panggung global, tanpa meninggalkan prinsip “bebas aktif” yang telah menjadi fondasi diplomasi nasional sejak kemerdekaan.
Berbicara di hadapan ratusan mahasiswa di Student Dormitory UMY, Havas mengingatkan bahwa prinsip “bebas aktif” bukanlah sikap netral yang pasif. Sebaliknya, Indonesia harus berani bersuara, hadir, dan terlibat dalam penyelesaian konflik internasional. “Bebas aktif bukan berarti diam. Kita harus berani bicara dan mengambil peran,” tegasnya.
Ia juga menyoroti posisi geografis Indonesia yang berada di persimpangan dua benua dan dua samudra, menjadikan negara ini tak bisa menghindar dari arus global. “Kapal lewat kita, pesawat lewat kita, bahkan polusi pun lewat kita. Artinya, kita tidak bisa hanya berpikir ke dalam negeri,” ujarnya.
Menurut Havas, diplomasi aktif yang dijalankan Presiden RI ke berbagai negara merupakan bukti nyata bahwa Indonesia tengah membangun jejaring dan pengaruh global. Kehadiran tamu-tamu negara di Indonesia juga mencerminkan penghargaan dunia terhadap posisi Indonesia.
“Kita tidak hanya hadir, tetapi juga didatangi. Itu tanda bahwa kita dihargai,” imbuhnya.
Dalam analogi yang kuat, Havas menggambarkan politik luar negeri Indonesia sebagai burung Garuda: kaki menancap di tanah air, dada di ASEAN, sayap kiri menjangkau Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa, sayap kanan ke Pasifik dan Amerika Serikat, sementara kepala menatap Asia Timur. “Garuda itu tegak, kokoh, dan percaya diri. Diplomasi kita pun harus seperti itu, berani terbang tinggi, tapi tetap membawa nilai-nilai yang kita yakini,” katanya.
Negara Demokrasi Besar
Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan status sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Havas menegaskan bahwa Indonesia sudah semestinya tampil percaya diri sebagai negara demokrasi besar.