Sarung Tangan Terapi Karya Dosen UMY: Redakan Kecemasan Remaja, Raih Paten Nasional
- Humas UMY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Angka gangguan kecemasan di kalangan remaja Indonesia terus meningkat. Berdasarkan survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sebanyak 26,7% remaja usia 10–17 tahun mengalami kecemasan, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan (28,2%) dibanding laki-laki (25,4%). Tekanan akademik, bullying, dan perasaan terisolasi menjadi pemicu utama.
Fenomena ini mendorong Erika Loniza, dosen Teknik Elektro-Medis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menciptakan inovasi sarung tangan terapi relaksasi. Berawal dari diskusi dengan tenaga kesehatan, Erika mengembangkan alat ini sejak 2022 dan berhasil memperoleh paten sederhana dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) dengan nomor IDS000009801 pada 10 Februari 2025.
“Ide ini muncul setelah berbincang dengan seorang perawat yang menyampaikan bahwa banyak anak sekolah mengalami kecemasan akibat bullying. Sebagai engineer, saya ingin menerjemahkan kebutuhan itu menjadi solusi nyata,” ujar Erika saat ditemui Humas UMY.
Terapi Menenangkan
Sarung tangan ini dilengkapi dengan sensor denyut nadi di ujung jari untuk memantau detak jantung. Saklar audio di beberapa jari yang, saat disentuhkan ke ibu jari, memicu perintah relaksasi danafirmasi positif seperti “Kamu anak hebat” atau “Kamu kuat.”
Diffuser aroma terapi dalam box control yang mengeluarkan aroma menenangkan. “Sarung tangannya kami beli biasa, lalu dimodifikasi dengan komponen tambahan sesuai kebutuhan terapi,” jelas Erika.
Penggunaannya pun sederhana dengan mengaktifkan box control, kenakan sarung tangan, lalu duduk tenang. Alat akan membaca detak jantung, memutar afirmasi positif, dan mengeluarkan aroma terapi. Erika menekankan bahwa alat ini dapat membantu psikolog, psikiater, maupun guru BK dalam mendampingi siswa atau pasien.
“Pengguna bisa melakukan terapi secara mandiri tanpa rasa malu atau canggung. Meski begitu, tetap perlu pendampingan di tahap awal,” tambahnya.
Uji Coba dan Respons Positif
Prototipe sarung tangan ini telah diuji coba pada sejumlah siswa di sebuah sekolah di Surakarta. Hasilnya menunjukkan peningkatan ketenangan yang signifikan. Guru BK di sekolah tersebut bahkan mendorong agar alat ini diproduksi secara massal.
“Ada siswa yang bilang pikirannya jadi lebih rileks dan kecemasannya berkurang setelah memakai sarung tangan ini. Itu motivasi saya untuk terus mengembangkan,” kata Erika.