Terobosan UMY: Alat Praktis Deteksi Telur Rusak, Solusi Cerdas untuk Kesehatan Keluarga
- Humas UMY
VIVA Jogja - Telur dikenal sebagai bahan pangan serbaguna yang kaya akan protein dan mudah diolah. Di dapur rumah tangga Indonesia, telur sering menjadi pilihan utama karena harganya terjangkau dan nilai gizinya tinggi. Namun, di balik kepraktisannya, telur juga menyimpan risiko kesehatan jika dikonsumsi dalam kondisi tidak layak. Kontaminasi bakteri seperti Salmonella dan Listeria dapat menyebabkan gangguan pencernaan serius, bahkan membahayakan ibu hamil.
Sayangnya, banyak keluarga masih mengandalkan cara tradisional seperti merendam telur dalam air atau sekadar menebak kualitasnya berdasarkan bau dan bentuk. Metode ini tidak selalu akurat dan berisiko tinggi.
Menjawab tantangan tersebut, Dr Qurratul Aini dosen Magister Administrasi Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), menciptakan alat deteksi telur rusak yang bersifat portabel dan mudah digunakan. Alat ini dirancang khusus untuk membantu ibu rumah tangga dan pelaku usaha kecil dalam menjaga kualitas protein yang dikonsumsi keluarga.
“Ide ini muncul saat saya melakukan edukasi gizi kepada kelompok Dasawisma. Banyak ibu-ibu yang belum menyadari pentingnya keseimbangan nutrisi. Telur sebenarnya sangat ideal—murah, bergizi, dan mudah didapat. Tapi ironisnya, telur terbaik justru dijual, sementara yang kualitasnya meragukan dikonsumsi sendiri,” ujar Dr. Aini.
Teknologi di Balik Alat Deteksi
Alat ini bekerja dengan prinsip optik: cahaya menembus cangkang telur dan dipantulkan kembali, lalu dianalisis oleh sensor. Komponen utamanya meliputi sensor inframerah dan fotodioda, lampu LED sebagai sumber cahaya, mikrokontroler Arduino Nano, layar tampilan hasil dan bodi portabel dengan baterai isi ulang.
Hasil analisis diklasifikasikan menjadi tiga kategori: telur kurang bagus, bagus, dan sangat bagus. Dengan alat ini, pengguna tidak perlu lagi mengandalkan insting atau metode konvensional. Bahkan, alat ini kompatibel untuk berbagai jenis telur—ayam, bebek, puyuh, hingga angsa.
Kolaborasi dan Rencana Pengembangan
Inovasi ini dikembangkan bersama almarhum Romadhani Syahputra, S.T., M.T., dari Teknik Elektro UMY. Proses perancangannya memakan waktu kurang dari satu tahun, dengan biaya produksi di bawah Rp200 ribu per unit. Jika dipasarkan, harga jualnya diperkirakan antara Rp150 ribu hingga Rp275 ribu—masih sangat terjangkau untuk masyarakat luas.