Biaya Transportasi Orang Indonesia Mahal, Pustral UGM Sumbang Solusi
- Istimewa
VIVA Jogja - Pernah merasa ongkos transportasi makin lama makin bikin dompet menipis? Menurut data dari Kementerian Perhubungan, orang Indonesia rata-rata ngeluarin sekitar 12,46% dari total biaya hidup bulanan cuma untuk transportasi. Padahal, standar ideal versi Bank Dunia ada di angka maksimal 10% saja. Jadi, bisa dikatakan orang Indonesia boros di transportasi.
Salah satu peneliti dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Dwi Ardianta Kurniawan, punya beberapa ide untuk membantu pemerintah menekan biaya transportasi masyarakat. Pertama adalah tata permukiman yang cerdas. Menurut Dwi, salah satu biang kerok mahalnya biaya transportasi adalah jarak tempuh yang jauh dari rumah ke tempat aktivitas. Jadi, kalau permukiman dirancang lebih dekat ke pusat kegiatan, otomatis ongkos bisa ditekan. Ditambah lagi, kalau fasilitas transportasi publiknya oke, kemacetan bisa berkurang dan perjalanan jadi lebih efisien. Berikutnya adalah transportasi umum yang terjangkau. Di kota-kota besar yang padat dan macet, angkutan umum itu ibarat penyelamat. Tapi, biar makin banyak yang mau naik, tarifnya harus bersahabat dan layanannya juga harus maksimal. “Kalau subsidi diberikan di tempat yang tepat, hasilnya bisa efektif banget,” kata Dwi.
Di daerah yang belum terlalu padat, tantangannya beda. Tarif murah saja tidak cukup, tetap dibutuhkan akses ke halte, rute yang jelas, dan waktu tunggu yang singkat agar orang tertarik naik transportasi umum.
Berikutnya, integrasi antar moda. Pindah dari satu moda ke moda lain dengan bayar kembali, jugajadi biang keborosan. Dwi memberikan contohnya , Jakarta sudah mulai menerapkan sistem tarif terintegrasi antara TransJakarta, MRT, dan LRT, yang cuma Rp10.000 buat perjalanan lintas moda selama tiga jam. Dan semua itu juga ditopang dengan digitalisasi pembayaran yang membuat segalanya menjadi lebih mudah.
Bayar transportasi pakai kartu atau aplikasi bukan cuma soal praktis, tapi juga soal data. Dengan sistem digital, semua transaksi tercatat rapi. Pemerintah bisa tahu pola perjalanan masyarakat dan akan menciptakan kebijakan yang lebih tepat sasaran. “Transparansi data ini penting banget buat masa depan transportasi kita,” tutup Dwi.