Wawan Mas’udi Nahkodai Fordekiis: Ilmu Sosial Didorong Lebih Relevan di Era Disrupsi
- Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Forum Dekan Ilmu-Ilmu Sosial (Fordekiis) resmi memiliki pemimpin baru. Dr. Wawan Mas’udi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, dilantik sebagai Ketua Fordekiis periode 2025–2027 dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Auditorium FISIPOL UGM. Pelantikan ini dihadiri oleh 41 dekan dari berbagai universitas di Indonesia, menandai babak baru sinergi nasional antar fakultas ilmu sosial.
Dalam sambutannya, Wawan menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan dan menegaskan komitmen Fordekiis untuk memperkuat relevansi ilmu sosial di tengah arus disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Ia menekankan bahwa ilmu sosial harus mampu menegaskan posisinya dalam rezim ilmu pengetahuan nasional, bukan sekadar pelengkap dari kemajuan teknologi.
“Teknologi dan inovasi tidak berdiri sendiri. Di baliknya ada dimensi sosial yang menentukan arah dan dampaknya. Fordekiis akan menjadi ruang berbagi pengalaman, pengembangan kurikulum, dan kerja sama lintas fakultas untuk menghadirkan ilmu sosial yang adaptif dan relevan,” ujar Wawan, Selasa (07/10/2025).
Dukungan terhadap kepemimpinan baru Fordekiis juga datang dari Prof. Armin Arsyad dari Universitas Hasanuddin yang menjabat sebagai Dewan Kehormatan forum tersebut. Ia menyebut Fordekiis sebagai organisasi unik yang memiliki potensi besar dalam mendorong kontribusi nyata ilmu sosial terhadap pembangunan bangsa. “Kalau bersinergi, dampaknya bisa luar biasa bagi pengembangan keilmuan sosial dan kebijakan publik di Indonesia,” katanya.
Setelah pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan lokakarya dan sesi pemikiran bersama yang menghadirkan Prof. Vedi Hadiz, akademisi terkemuka di bidang ilmu sosial dan politik. Dalam sesi bertajuk “Tantangan dan Peluang Ilmu Sosial Kritis di Indonesia”, Prof. Vedi mengajak peserta untuk merefleksikan lima pertanyaan mendasar tentang eksistensi dan arah ilmu sosial kritis. Ia menekankan bahwa ilmu sosial kritis adalah tradisi intelektual yang mempertanyakan realitas dan tidak menerima begitu saja keadaan yang ada.
“Keberanian intelektual diuji ketika kita berani mempertanyakan apa yang dianggap normal. Di situlah ilmu sosial kritis menemukan perannya,” tegas Vedi.
Menutup rangkaian kegiatan, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof. Pratikno turut hadir secara daring untuk menyampaikan ucapan selamat kepada ketua baru Fordekiis. Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan “Social Science with Adjective”, yakni ilmu sosial yang terus beradaptasi dengan konteks baru seperti isu lingkungan, digitalisasi, dan kecerdasan buatan. “Ilmu sosial tidak bisa berhenti pada objek-objek konvensional. Ia harus berkembang mengikuti fenomena baru agar tetap relevan,” ujar Pratikno.