Yogyakarta Jadi Tuan Rumah Konferensi Psikologi Militer Dunia 2026
- Dok Humas Pemda DIY
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Daerah Istimewa Yogyakarta resmi ditetapkan sebagai tuan rumah penyelenggaraan International Military Psychology Conference (IMPC) 2026, sebuah forum bergengsi yang akan mempertemukan para pakar psikologi militer dari berbagai negara. Konferensi internasional ini dijadwalkan berlangsung pada 10–14 November 2026 dan akan membahas isu-isu strategis terkait operasi militer selain perang.
Penetapan Yogyakarta sebagai lokasi konferensi diumumkan oleh Dekan Fakultas Psikologi Universitas Jenderal Ahmad Yani (UNJANI), Brigjen TNI (Purn) Dr. Eri Radityawara Hidayat, MBA., MHRMC, usai bertemu Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan. Dalam audiensi tersebut, Eri menyampaikan bahwa dukungan Pemda DIY sangat penting untuk menyukseskan agenda internasional ini. “Kami memilih Jogja karena ingin mengangkat nilai-nilai budaya Jawa dan Keraton Yogyakarta sebagai landasan pembahasan operasi militer selain perang,” ujarnya.
Menurut Eri, perang konvensional kini semakin jarang terjadi. Sebaliknya, konflik yang muncul lebih banyak berbentuk perang psikologi atau low intensity conflict. “Pesawat canggih atau tank tidak lagi menjadi penentu kemenangan. Pendekatan budaya dan psikologi justru menjadi kunci. Konferensi ini akan membahas perang psikologi lintas budaya sebagai strategi operasi militer selain perang,” jelasnya.
Fakultas Psikologi UNJANI, yang memiliki kekhususan studi psikologi militer, akan terlibat langsung dalam penyelenggaraan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, IMPC dipastikan diikuti perwakilan dari berbagai benua. Negara-negara yang rutin hadir antara lain Arab Saudi, Oman, India, Malaysia, Indonesia, Singapura, Afrika Selatan, Nigeria, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada, serta sejumlah negara Eropa. Sebelumnya, konferensi ini dikenal dengan nama International Military Testing Association (IMTA) sebelum berganti menjadi IMPC pada penyelenggaraan tahun lalu.
Kepala Dinas Psikologi TNI Angkatan Laut, Laksamana Pertama TNI Wisnu Agung, menambahkan bahwa pendekatan budaya sangat penting dalam setiap operasi militer non-perang. Ia mencontohkan penanganan bencana banjir di Sumatra yang dilakukan TNI dengan membentuk operasi khusus. “Kami bahkan bekerja sama dengan abdi dalem untuk memahami aspek budaya, lalu memadukannya dengan kesehatan mental prajurit darat, laut, maupun udara. Dengan memahami budaya, operasi bisa berjalan sukses tanpa menimbulkan konflik baru,” ungkapnya.