Peneliti UGM Kembangkan Geoportal Kebencanaan untuk Sumatra
- Dok Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan kiprahnya dalam inovasi kebencanaan. Tim peneliti lintas fakultas meluncurkan Geoportal Informasi Dasar Kebencanaan berbasis data spasial yang dirancang khusus untuk mendukung penanganan darurat di wilayah Sumatra.
Platform ini hadir sebagai jawaban atas persoalan klasik dalam manajemen bencana: ketimpangan distribusi bantuan. Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof Muhammad Kamal, menegaskan bahwa selama ini penyaluran bantuan sering kali tidak merata karena minimnya data spasial yang akurat. “Kami ingin mengubah pola penanganan bencana dari berbasis asumsi menjadi berbasis data,” ujarnya, Sabtu (03/02/2026).
Geoportal ini menghasilkan enam jenis peta utama, mulai dari status fasilitas kesehatan dan shelter, permukiman terdampak, kebutuhan darurat (needs map), area banjir, perbandingan kondisi sebelum dan sesudah banjir, hingga aksesibilitas jaringan jalan. Seluruh peta tersebut dikembangkan oleh tim gabungan dari Fakultas Geografi, Program Studi Teknik Geodesi Fakultas Teknik, serta Program Studi Sistem Informasi Geografis Sekolah Vokasi.
Wakil Dekan Fakultas Geografi, Dr. Sigit Heru Murti, menjelaskan bahwa sistem ini berbasis WebGIS partisipatif dengan metode crowdsourcing. Masyarakat terdampak dapat melaporkan kebutuhan mereka secara langsung, lengkap dengan lokasi dan kontak person. Laporan tersebut kemudian diverifikasi oleh dosen dan mahasiswa yang bertindak sebagai “dapur data”. Model pemetaan partisipatif ini bukan hal baru bagi UGM, karena telah diterapkan sejak gempa Bantul 2006, lalu dikembangkan kembali pada gempa Lombok dan tsunami Palu.
Dukungan teknologi juga datang dari luar negeri. Dr. Nur Mohammad Farda dari Fakultas Geografi UGM menyebutkan bahwa tim memperoleh citra satelit resolusi tinggi dari Disasters Charter PBB melalui kerja sama dengan BRIN. Data tersebut digunakan untuk memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase darurat. “Interpretasi citra satelit memungkinkan kami mengidentifikasi permukiman terdampak dan menilai kerusakan dengan lebih presisi,” jelasnya.
Hasil pemetaan kebutuhan kemudian diintegrasikan ke dalam Dashboard WebGIS InaRISK milik BNPB. Needs map pertama yang dirilis pada 6 Desember 2025 langsung menerima 54 laporan dalam kurun 12 jam. Menurut Kamal, metode crowdsourcing terbukti efektif dalam tahap quick response, karena korban dapat melaporkan kebutuhan secara real time sehingga bantuan bisa disalurkan tepat sasaran.