Pakar UGM Ingatkan Bahaya Kerusakan DAS, Segera Rehabilitasi dan Agroforestri
- DOK Humas UGM
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Banjir bandang yang melanda Sumatra Barat dan Sumatra Utara kembali menyingkap persoalan serius di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Berdasarkan citra satelit, ditemukan 110 titik pembukaan lahan di DAS Garoga, Tapanuli Selatan. Akibatnya, air meluap hingga menelan korban 47 jiwa meninggal dan 22 orang hilang. Temuan Bareskrim Polri bahkan mengaitkan peristiwa ini dengan aktivitas perusahaan kelapa sawit yang diduga membuka lahan di Desa Goroga, Kecamatan Batang Toru.
Pakar Konservasi Tanah dan Air UGM Prof Dr Ir Ambar Kusumandari menegaskan bahwa kerusakan di hulu DAS berdampak langsung pada wilayah tengah dan hilir. Ia menyebut banjir bandang sebagai bentuk nyata bencana hidrometeorologi yang muncul akibat hilangnya fungsi kawasan konservasi. “Arus sungai yang membawa balok-balok kayu besar adalah bukti kerusakan hulu yang seharusnya menjadi kawasan lindung,” ujarnya, Selasa (06/01/2026).
Menurut Ambar, hilangnya hutan di hulu berarti hilang pula peran alami sebagai penahan air hujan. Tanpa tajuk pohon yang mampu mengintersepsi, air langsung mengalir deras ke permukaan. Sungai di hilir pun tak sanggup menampung beban air, sehingga banjir bandang tak terelakkan.
Ia menekankan perlunya rehabilitasi vegetatif pada lahan negara yang mengalami deforestasi, dipadukan dengan teknik mekanik sebagai pondasi ekosistem. Untuk lahan masyarakat, solusi yang ditawarkan adalah agroforestri, yakni menggabungkan tanaman hutan dengan tanaman pangan atau obat-obatan. “Lahan pemerintah difokuskan sebagai hutan lindung, sementara lahan masyarakat dibangun menyerupai hutan tetapi tetap memberi manfaat ekonomi,” jelasnya.
Ambar juga menyerukan moratorium terhadap aktivitas tambang dan perkebunan skala besar yang merusak alam. Ia menilai tata ruang harus dirancang ulang dengan berlandaskan konsep pengelolaan DAS. Selain itu, sistem peringatan dini berbasis prediksi BMKG dan peta potensi bencana perlu diperkuat. “Kita harus menyesuaikan aktivitas manusia dengan kondisi alam secara adaptif,” pungkasnya.