RSUP Dr Sardjito Jadi Rujukan Nasional Pengembangan Kedokteran Nuklir
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - RSUP Dr Sardjito ditetapkan sebagai role model pengembangan kedokteran nuklir di Indonesia. Penunjukan ini dilakukan oleh Kolegium Kedokteran Nuklir Indonesia, yang kemudian bersama pihak rumah sakit bertemu Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Jumat (09/01/2026), untuk memohon doa restu sekaligus masukan.
Ketua Kolegium Kedokteran Nuklir Indonesia, Dr dr Budi Darmawan menegaskan bahwa program ini merupakan amanat Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023. “Kami ingin memperkuat pengembangan pelayanan kedokteran nuklir di RSUP Dr. Sardjito, baik dari sisi sarana prasarana, alat kesehatan, SDM, maupun pendanaan. Pesan Sri Sultan tadi jelas: disiplin adalah kunci,” ujarnya.
Budi mengingatkan, kedokteran nuklir bukan hal baru di DIY. Sejak 1967, layanan ini sudah hadir dan ditunjang keberadaan reaktor Kartini milik BATAN. Namun, untuk meningkatkan kualitas pelayanan, RSUP Dr. Sardjito kini menjadi pusat pengembangan. “Harapannya, tahun 2027 program ini sudah berjalan sukses. Kami mohon dukungan agar rencana ini terlaksana dengan baik,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. Sardjito, drg. Nusati Ikawahju, M.Kes., menyampaikan bahwa rumah sakit milik Kementerian Kesehatan RI ini tidak hanya fokus pada pelayanan, tetapi juga pendidikan. Mulai 2026, RSUP Dr. Sardjito akan membuka program pendidikan spesialis kedokteran nuklir berbasis rumah sakit.
“Biasanya pendidikan spesialis berbasis perguruan tinggi. Kali ini, RSUP Dr. Sardjito siap menjadi basis pendidikan dengan dukungan SDM, sarana prasarana, serta kasus pasien yang beragam, mulai dari kanker, jantung, hingga uronefro,” jelas Nusati.
Dengan penunjukan ini, RSUP Dr. Sardjito diharapkan menjadi pionir dalam pengembangan kedokteran nuklir nasional, sekaligus memperkuat peran DIY sebagai pusat layanan kesehatan berbasis riset dan inovasi.