Marak Konten Seksual Palsu, Dosen UGM : Jangan Ikut Menyebarkan
- Istimewa
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Maraknya praktik manipulasi konten seksual berupa foto dan video melalui teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menimbulkan keresahan publik. Teknologi yang sejatinya dikembangkan untuk mempermudah kehidupan manusia kini disalahgunakan untuk menciptakan konten seksual palsu secara instan dan masif. Ironisnya, kecanggihan tersebut justru memperparah objektifikasi perempuan sebagai korban utama eksploitasi visual. Lebih mengkhawatirkan lagi, eksploitasi seksual anak di ruang digital menunjukkan tren yang semakin serius. Laporan tahun 2024 mencatat Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dengan 1.450.403 kasus eksploitasi seksual anak daring, menjadikannya salah satu negara dengan jumlah kasus pornografi daring terbesar.
Akademisi pemerhati gender dari Sekolah Pascasarjana UGM, Dr Ratna Noviani menegaskan bahwa kecanggihan fitur AI bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan alat baru untuk melanggengkan kekerasan berbasis gender yang sistemik. Menurutnya, ruang digital yang sering diglorifikasi sebagai ruang “kebebasan” pada akhirnya menjadi medan baru bagi reproduksi kekerasan berbasis gender, termasuk kekerasan seksual yang menargetkan perempuan. “Ini bukan hanya melanggengkan kekerasan lama, tetapi juga menjadi ruang bentuk-bentuk kekerasan baru, seperti kekerasan berbasis gender online yang bersifat masif, anonim, dan cenderung sulit dihentikan,” jelasnya.
Ratna menyoroti kontradiksi mendasar yang dialami perempuan di era digital. Media sosial memang membuka ruang bagi perempuan untuk tampil, bersuara, dan menghadirkan diri. Ada semacam rasa kebebasan bagi perempuan untuk membangun visibilitas dan menunjukkan agensi. Namun pada saat yang sama, eksistensi visual tersebut justru membuat tubuh dan citra perempuan rentan dijadikan “bahan baku” kekerasan seksual digital. “Perempuan didorong untuk hadir dan visible di ruang digital, tetapi visibilitas itu justru membuat tubuh mereka menjadi objek untuk dikontrol, dieksploitasi, dan diserang,” tegasnya.
Fenomena manipulasi konten seksual berbasis AI, menurut Ratna, merupakan evolusi budaya mengintip atau voyeurisme. Sejak lama, perempuan diposisikan dalam logika male gaze sebagai objek tatapan dan tontonan untuk kesenangan laki-laki. “Praktik morphing tidak mengubah logika male gaze ini, ia justru memperhalus dan melanggengkannya dalam bentuk visual digital yang semakin rapi, realistis, dan invasif,” ujarnya.