Longsoran di Ruas Jalan Tirto–Kalirejo Kulonprogo Telah Tertangani
- Humas Pemkab Kulonprogo
KULONPROGO, VIVA Jogja - Ruas jalan kabupaten yang menghubungkan Tirto dan Kalirejo di Kalurahan Hargotirto, Kapanewon Kokap, sempat tertutup material longsoran akibat hujan deras yang mengguyur wilayah pegunungan Kulonprogo pada awal Januari 2026. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Kulonprogo bergerak cepat melalui Bidang Bina Marga dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Konstruksi dan Peralatan untuk melakukan penanganan darurat.
Pembersihan material longsoran dilakukan menggunakan satu unit backhoe loader yang dikerahkan langsung ke lokasi. Proses evakuasi tanah dan batu dibantu oleh warga sekitar serta Kelompok Kuliari Jalan, yang turut bekerja menggunakan alat manual seperti cangkul dan sekop. Material longsoran yang menutupi badan jalan dibuang dan diratakan ke jurang di seberang jalan, agar tidak mengganggu aliran air dan tetap aman secara teknis.
Di titik lain yang berjarak sekitar 150 meter dari lokasi utama, ditemukan batu utuh berukuran besar yang juga berpotensi membahayakan pengguna jalan. Batu tersebut berhasil digeser menggunakan alat berat agar tidak menghalangi akses kendaraan. Setelah proses pembersihan selesai, ruas jalan Tirto–Kalirejo kembali dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, meski dengan kecepatan terbatas mengingat kondisi jalan yang masih licin dan berpotensi longsor susulan.
Menurut data DPUPKP Kulonprogo, ruas jalan Tirto–Kalirejo merupakan jalur vital yang menghubungkan beberapa dusun di wilayah Hargotirto dengan pusat Kapanewon Kokap. Jalur ini digunakan oleh lebih dari 1.200 warga setiap harinya, termasuk untuk akses pendidikan, distribusi hasil pertanian, dan transportasi umum. Oleh karena itu, penanganan cepat terhadap gangguan jalan menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Kulonprogo, Ir Sigit Prabowo, menyampaikan bahwa pihaknya telah memetakan titik-titik rawan longsor di wilayah pegunungan, termasuk di Kokap, Girimulyo, dan Samigaluh. Ia menambahkan bahwa selama musim penghujan, intensitas longsoran meningkat hingga 35% dibandingkan musim kemarau, terutama di jalur dengan kemiringan tinggi dan struktur tanah lempung.
“Penanganan longsoran tidak hanya soal pembersihan, tetapi juga antisipasi. Kami sedang menyusun rencana teknis untuk pembangunan dinding penahan tanah (retaining wall) di beberapa titik rawan, termasuk di ruas Tirto–Kalirejo. Selain itu, kami akan memperkuat sistem drainase agar air hujan tidak menggerus lereng jalan,” ujar Sigit.