Bank Bullion: Instrumen Keuangan Berbasis Emas, Bukan Pendorong Ekonomi Riil

Dosen FEB UGM Wisnu Setiadi Nugroho
Sumber :
  • Dok FEB UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Rencana pemerintah membentuk Bank Bullion sebagai terobosan kebijakan ekonomi nasional dinilai memiliki potensi besar dalam memperkuat stabilitas makroekonomi. Namun, para ekonom menekankan bahwa peran Bank Bullion lebih dominan pada pendalaman pasar keuangan ketimbang mendorong pertumbuhan ekonomi riil secara langsung.

img_title Ekonom UGM Soroti Ketimpangan Perjanjian ART Indonesia-AS

Ekonom Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, menjelaskan bahwa keberadaan Bank Bullion akan menciptakan instrumen likuid berbasis emas, meningkatkan efisiensi transaksi, sekaligus memperkuat sistem keuangan nasional. “Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi lebih bersifat tidak langsung, melalui stabilitas makro dan peningkatan kepercayaan investor,” ujarnya.

Menurut Wisnu, cadangan emas yang kuat dapat membantu menekan risiko nilai tukar dan memperkuat daya tarik pasar modal. Namun, tanpa integrasi dengan sektor riil, misalnya pembiayaan industri atau UMKM, kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akan tetap terbatas. Ia juga mengingatkan adanya risiko bahwa Bank Bullion lebih banyak menguntungkan pelaku pasar besar dibandingkan usaha kecil.

img_title Kenaikan Harga Minyak Dunia, Ekonom UGM Ingatkan Risiko Sosial dan Ekonomi

Membandingkan dengan hilirisasi nikel, Wisnu menilai Bank Bullion tidak bisa disamakan. Hilirisasi nikel memiliki rantai nilai industri yang jelas, dari bijih hingga produk antara seperti baterai kendaraan listrik. Sementara emas lebih banyak berfungsi sebagai store of value dan instrumen keuangan, bukan bahan baku industri massal. “Bank Bullion fokusnya bukan manufaktur, melainkan monetisasi cadangan emas dan penciptaan instrumen keuangan berbasis emas,” tegasnya.

Pandangan senada disampaikan Diny Ghuzini, dosen FEB UGM, yang menyoroti tren harga emas global yang tinggi. Menurutnya, pemerintah perlu menempatkan stabilitas ekonomi sebagai prioritas utama. Perdagangan emas memang bisa memberi keuntungan bagi investor, tetapi cadangan emas harus dijaga sebagai bantalan menghadapi ketidakpastian global.

img_title UGM Gelar Skrining Risiko Asma di Sekolah Yogyakarta

Diny merujuk pada data International Financial Statistics (IFS) 2025 yang menunjukkan adanya peningkatan cadangan emas di negara-negara berkembang, sementara negara maju relatif stabil. “Motivasi peningkatan cadangan emas karena dianggap sebagai instrumen aman dengan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan surat utang AS. Risiko geopolitik dan ketidakpastian global mendorong negara-negara mencari alternatif,” jelasnya.

Meski Indonesia termasuk produsen emas dunia, Diny menilai cadangan emas nasional masih relatif terbatas dibandingkan negara pemilik cadangan besar seperti Amerika Serikat, Jerman, Italia, Cina, dan Australia. Karena itu, pengembangan Bank Bullion tidak serta-merta menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara tersebut.

Halaman Selanjutnya
img_title