Gerakan Kebudayaan dari Warga Jadi Penopang Yogya Kota Budaya

Dialog kebudayaan dengan Wakil Walikota Yogya
Sumber :
  • Humas Pemkot Yogya

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Identitas Kota Yogyakarta sebagai kota budaya kembali ditegaskan melalui dorongan pemerintah kota agar gerakan kebudayaan tumbuh dari masyarakat. Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menekankan bahwa kekuatan budaya harus berangkat dari bawah, bukan sekadar program formal dari pemerintah.

img_title Semarak Kebersamaan Lansia dan PAUD Mantrijeron Jadi Wadah Pelayanan Publik

Dalam pertemuan yang berlangsung di Cold n Brew, Selasa (13/01/2026), Wawan bersama Dinas Kebudayaan dan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta membahas langkah konkret memperkuat gerakan kebudayaan. Ia mencontohkan pentingnya sosialisasi aksara Jawa dan musik tradisional seperti keroncong agar kembali akrab di telinga masyarakat. “Yogya harus tetap menjadi tuan rumah bagi budayanya sendiri. Yogya punya ciri khas yang tidak boleh hilang,” ujarnya.

Kekuatan Yogyakarta, menurut Wawan, terletak pada sinergi antara kebudayaan dan pariwisata. Karena itu, ia mendorong kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah, termasuk Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata, serta kerja sama dengan Kraton Yogyakarta dan Pemerintah Provinsi DIY. “Gerakan masif harus dilakukan langsung. Dari 14 kecamatan, kita bisa mulai dengan pemberantasan buta aksara Jawa yang masih dialami anak-anak muda,” tambahnya.

img_title Pemkot Yogyakarta Dorong Penguatan Potensi Kelurahan untuk Ungkit Ekonomi Lokal

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menegaskan bahwa fokus tahun 2026 adalah sinkronisasi antar-OPD agar kebudayaan tidak hanya berkelanjutan tetapi juga memberi manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut program pembinaan aksara Jawa bukan sekadar mengenalkan huruf, tetapi juga pemahaman makna dan pemanfaatannya, misalnya untuk produk kreatif seperti merchandise. Selain itu, fasilitasi rintisan kelurahan budaya, sanggar seni, dan komunitas adat akan terus diperkuat.

Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ki Priyo Dwiarso, menambahkan bahwa arah kebijakan budaya harus bottom-up. Potensi yang muncul dari masyarakat dikumpulkan, dibina, lalu dikembangkan. “Dulu hanya ada pra-Rintisan Kelurahan Budaya, kini sudah berkembang menjadi tujuh kelurahan budaya aktif. Itu bukti bahwa gerakan dari bawah bisa tumbuh menjadi kekuatan besar,” katanya.

img_title Job Fair Kota Yogyakarta 2026: Ribuan Lowongan Kerja dan Komitmen Dunia Usaha Inklusif

Data Dinas Kebudayaan menunjukkan, hingga akhir 2025 terdapat lebih dari 120 sanggar seni aktif di Kota Yogyakarta, dengan sekitar 40 di antaranya rutin menggelar kegiatan tahunan seperti upacara adat dan festival lokal. Angka ini diproyeksikan meningkat 15 persen pada 2026 seiring dukungan pemerintah kota.

Halaman Selanjutnya
img_title