Populasi Elang Jawa Terancam Punah, Dosen UGM Desak Upaya Konservasi dan Perluasan Habitat
- Bing Image Creative
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Populasi Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), satwa endemik yang menjadi simbol negara sekaligus maskot fauna Indonesia, kini berada di ambang kepunahan. Data terbaru menunjukkan jumlahnya hanya tersisa sekitar 511 pasang atau kurang lebih 1.000 ekor yang tersebar di 74 kantong hutan di Pulau Jawa. Status konservasi burung pemangsa ini telah ditetapkan sebagai endangered species oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan masuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/2018.
Ancaman utama terhadap keberlangsungan Elang Jawa adalah degradasi hutan, alih fungsi lahan, serta perdagangan satwa liar. Padahal, keberadaan Elang Jawa sebagai predator puncak memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis di Jawa.
Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Donan Satria Yudha, S.Si., M.Sc., menilai status hampir punah ini disebabkan oleh hilangnya habitat alami. Menurutnya, syarat lokasi habitat Elang Jawa sangat spesifik, yakni hutan hujan tropis dengan heterogenitas tinggi serta keberadaan pohon menjulang tinggi (emergent tree) yang digunakan sebagai sarang. “Area hutan harus memiliki potensi mangsa yang cukup seperti tikus, tupai, bajing, ayam hutan, dan berada di pegunungan atau perbukitan dengan kemiringan curam,” jelas Donan, Senin (19/01/2026).
Donan menambahkan, banyak habitat kini telah diserobot manusia untuk kepentingan ekonomi. Ia menegaskan perlunya kesadaran berbagi ruang hidup antara manusia dengan satwa. “Semua makhluk hidup termasuk Elang Jawa adalah ciptaan Tuhan dan berhak tinggal di bumi-Nya. Kita wajib berbagi lahan dengan hewan dan tumbuhan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, hilangnya Elang Jawa akan berdampak serius pada ekosistem. Tanpa predator ini, populasi bajing dan jelarang hitam yang memakan buah dan biji akan meledak, sehingga regenerasi tumbuhan hutan terganggu. Overpopulasi mamalia kecil juga berpotensi menekan populasi burung pemakan buah lain. “Daya dukung tumbuhan hutan terbatas. Jika predator hilang, keseimbangan ekosistem akan rusak,” tegasnya.
Sebagai predator utama, Elang Jawa berperan mengontrol populasi mamalia kecil seperti tikus, tupai, monyet, musang, kadal, dan ular. Dengan demikian, keberadaannya menjadi indikator kesehatan ekosistem. “Ketika kita menyelamatkan Elang Jawa, maka hewan maupun tumbuhan lain di dalam area konservasi juga otomatis terlindungi,” tambah Donan.