Indonesia Outlook 2026: HI UMY Bahas Tantangan Kepemimpinan Nasional di Tahun Kedua Prabowo
- Dok Humas UMY
BANTUL, VIVA Jogja - Forum akademik bertajuk Indonesia Outlook 2026 yang digelar Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) menyoroti arah kepemimpinan nasional di tengah turbulensi global. Acara yang berlangsung secara hybrid ini menjadi wadah untuk mengkaji sektor-sektor strategis Indonesia pada tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam menghadapi dinamika geopolitik, ekonomi dunia, dan politik kawasan Indo-Pasifik.
Ketua Prodi HI UMY, Dr Ade Marup Wirasenjaya menekankan bahwa tahun kedua pemerintahan merupakan fase penentu. Setelah masa konsolidasi awal, tantangan struktural mulai tampak lebih jelas, baik dalam pengelolaan ekonomi, sektor pertahanan dan keamanan, maupun kebijakan luar negeri. “Indonesia berada di persimpangan penting. Tekanan ekonomi global dan dinamika politik domestik berpadu dengan rivalitas kekuatan besar di Indo-Pasifik yang langsung memengaruhi kepentingan strategis nasional,” ujarnya.
Ade menjelaskan, Indonesia Outlook 2026 dirancang sebagai kontribusi akademik untuk membaca secara kritis dan objektif arah kepemimpinan nasional. Forum ini juga menelaah bagaimana gaya kepemimpinan Presiden Prabowo serta proses pengambilan keputusan pemerintah berimplikasi pada relasi sipil–militer, kredibilitas Indonesia di mata internasional, dan posisi strategis negara di tingkat kawasan maupun global.
Moderator forum, Dr. Imam Mahdi, M.A., menambahkan bahwa outlook kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya digelar di akhir tahun sebagai refleksi, kini HI UMY memilih awal tahun agar proyeksi kebijakan dapat dibaca lebih antisipatif. “Situasi geopolitik internasional tidak sedang baik-baik saja. Perang Rusia–Ukraina belum usai, konflik Israel–Palestina terus berlanjut, dinamika Iran berkembang, dan rivalitas kekuatan besar semakin tajam. Semua ini menuntut kepemimpinan Indonesia yang adaptif, responsif, dan visioner,” jelasnya.
Imam menegaskan, sebagai negara dengan posisi strategis di kawasan sekaligus representasi penting dari Global South, Indonesia tidak bisa bersikap pasif terhadap perubahan tatanan internasional. Kepemimpinan nasional dituntut mampu membaca peluang dan risiko global secara cermat agar kepentingan bangsa tetap terjaga di tengah ketidakpastian dunia.