Poros Teluk Mengalami Retak: Saudi dan UEA Berebut Kendali di Yaman

Bachtiar Nasir
Sumber :
  • Istimewa

VIVA Jogja -  Peta politik Timur Tengah kembali bergejolak. Hubungan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai sekutu erat di kawasan Teluk, kini memasuki masa paling rapuh dalam satu dekade terakhir. Yaman kembali menjadi panggung utama perebutan pengaruh, memperlihatkan bagaimana kepentingan dua negara besar itu mulai berseberangan secara terbuka.

img_title Negara Teluk Tutup Akses Militer AS, Pertanda Pergeseran Kekuatan di Timur Tengah

Retaknya poros Saudi–UEA menandai pergeseran penting dalam dinamika geopolitik regional. Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Bachtiar Nasir, dalam keterangan tertulisanya menyatakan, koalisi yang sebelumnya tampak solid kini menghadapi ujian berat, dengan benturan kepentingan yang berpotensi mengancam kedaulatan Yaman. Negara yang belum pulih dari perang panjang dan krisis kemanusiaan itu kembali terseret dalam pusaran rivalitas dua kekuatan Teluk.

menilai perkembangan ini sebagai eskalasi serius. “Yang terjadi sekarang bukan lagi perbedaan sikap biasa antarsekutu, tetapi sudah mengarah pada konfrontasi terbuka. Yaman kembali menjadi arena tarik-menarik kepentingan dua kekuatan besar di Teluk,” ujarnya, Kamis (22/01/2026).

img_title Polisi & Jaksa Memanas, Pakar Hukum Minta Tinggalkan Ego Sektoral Demi Cegah Kekosongan Penegakan Hukum

Ketegangan semakin nyata setelah Arab Saudi pada 30 Desember 2025 melayangkan ultimatum kepada UEA agar menarik pasukannya dari Yaman dalam waktu 24 jam. Langkah itu menandai memburuknya koordinasi koalisi yang selama ini mengklaim bertujuan menjaga stabilitas. Tidak berhenti di situ, awal Januari 2026 Riyadh melancarkan serangan udara ke jalur logistik senjata milik Southern Transitional Council (STC) di Mukalla. STC, kelompok separatis Yaman Selatan yang mendapat dukungan kuat dari Abu Dhabi, menjadi sasaran langsung Riyadh sebagai bentuk penegasan bahwa agenda politik di luar kendali koalisi tidak lagi ditoleransi.

Situasi semakin genting ketika Pemerintah Yaman yang didukung Saudi melalui Presidential Leadership Council (PLC) menetapkan status darurat nasional selama 90 hari. Kebijakan itu muncul setelah pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi, mendeklarasikan diri sebagai presiden Yaman Selatan. Deklarasi sepihak tersebut memicu kekhawatiran akan terpecahnya Yaman menjadi dua entitas politik.

img_title UGM Kukuhkan Dominasi Seni di Peksimiprov DIY 2026

Menurut Bachtiar, akar konflik Saudi–UEA di Yaman berawal dari perbedaan kepentingan strategis yang sulit dipertemukan. Riyadh memandang keutuhan Yaman sebagai bagian dari keamanan nasional, mengingat panjangnya perbatasan darat kedua negara. Sebaliknya, Abu Dhabi lebih menekankan kepentingan maritim dan ekonomi jangka panjang, dengan strategi menguasai pelabuhan strategis seperti Aden dan Pulau Socotra. Langkah ini dinilai berisiko memperdalam fragmentasi politik di Yaman.

Halaman Selanjutnya
img_title