Warga Tiyasan Hidupkan Lahan Terlantar dengan tanaman Bawang Merah
- Pemkab Sleman
SLEMAN, VIVA Jogja - Semangat warga Padukuhan Tiyasan, Condongcatur, Depok, Sleman, dalam mengubah lahan kosong menjadi kebun produktif akhirnya membuahkan hasil. Kamis (22/01/2026), Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama jajaran pemerintah daerah menghadiri panen perdana bawang merah sekaligus meresmikan Sugih Waras Farm sebagai pengelola resmi kawasan perkebunan tersebut.
Sugih Waras Farm yang digagas oleh Riska Dian Nur Lestari bersama warga setempat kini mengelola tanah pelungguh seluas 11 ribu meter persegi. Lahan yang sebelumnya sering dijadikan tempat pembuangan sampah liar itu kini berubah wajah menjadi hamparan hijau dengan sistem tumpang sari. Berbagai komoditas ditanam, mulai dari alpukat, cabai, tomat, timun, kacang panjang, hingga kacang tanah.
Menurut catatan pengelola, hasil panen perdana bawang merah mencapai 1,2 ton dengan kualitas umbi yang cukup baik. Selain itu, tanaman hortikultura lain seperti cabai dan tomat diperkirakan akan mulai dipanen dalam dua bulan ke depan. “Kami berharap hasil ini bisa menjadi sumber tambahan ekonomi warga sekaligus menjaga ketahanan pangan lokal,” ujar Riska.
Dalam sambutannya, Bupati Harda Kiswaya mengapresiasi langkah warga Tiyasan yang mampu mengubah lahan tidak produktif menjadi kebun yang bermanfaat. “Dulu lahan ini hanya ditumbuhi rumput. Sekarang sudah menjadi kebun yang menghasilkan. Ini bukti nyata bahwa masyarakat bisa berinovasi untuk mendukung ketahanan pangan,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Sleman mencatat, sejak 2024 terdapat lebih dari 30 titik lahan tidur di wilayah Depok yang berpotensi diolah menjadi perkebunan rakyat. Program seperti yang dilakukan warga Tiyasan diharapkan dapat menjadi contoh bagi dusun lain.
Selain mendukung ketahanan pangan, keberadaan Sugih Waras Farm juga membuka peluang kerja bagi pemuda desa. Saat ini tercatat 15 orang tenaga lokal terlibat dalam pengelolaan kebun, mulai dari penanaman, perawatan, hingga pemasaran hasil panen.
Dengan adanya dukungan pemerintah daerah, warga berharap perkebunan ini dapat berkembang menjadi pusat agrowisata kecil yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menarik minat wisatawan lokal untuk belajar tentang pertanian berkelanjutan.