Investigasi ATR 42-500: Cuaca Buruk dan Navigasi Diduga Jadi Faktor Kecelakaan
- Bing Image Creative
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menabrak Gunung Bulusaruang pada Sabtu (17/01/2026) lalu kini memasuki tahap investigasi. Setelah hampir sepekan melakukan pencarian, tim SAR gabungan resmi menutup operasi evakuasi pada Jumat (23/01/2026) malam, usai seluruh korban ditemukan dan kotak hitam pesawat berhasil diamankan.
Basarnas melaporkan sebanyak 10 jenazah telah dievakuasi. Tiga di antaranya sudah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga, sementara tujuh lainnya masih dalam proses identifikasi oleh tim DVI Polri. Black box serta serpihan pesawat diserahkan kepada Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk analisis lebih lanjut.
Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Muhammad Agung Bramantya, Ph.D., menilai keberadaan Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder akan menjadi kunci untuk mengungkap penyebab kecelakaan. “Data penerbangan dan rekaman komunikasi di kokpit akan memperlihatkan kondisi sebenarnya sebelum pesawat hilang kontak. Namun, pembacaan dan analisis membutuhkan waktu agar hasilnya akurat,” jelasnya, Senin (26/1).
Menurut informasi awal KNKT, kecelakaan diduga terjadi akibat kesalahan navigasi terhadap medan sekitar. Bramantya menambahkan, faktor cuaca buruk berupa kabut tebal dan hujan deras kemungkinan besar memperburuk situasi. Kondisi tersebut membuat visibilitas pilot rendah sehingga lebih bergantung pada instrumen navigasi. “Sistem yang belum sepenuhnya otomatis bisa menimbulkan salah interpretasi instrumen, ditambah potensi gangguan komunikasi dengan Air Traffic Control,” ujarnya.
Ia menekankan perlunya evaluasi menyeluruh setelah hasil analisis black box keluar. Rekomendasi keselamatan, menurutnya, harus mencakup perbaikan prosedur navigasi, peningkatan pelatihan awak pesawat dalam menghadapi kondisi ekstrem, serta penguatan teknologi mitigasi. “Dalam jangka panjang, sistem ATC, pemantauan cuaca, dan peralatan SAR harus ditingkatkan agar respon terhadap kecelakaan lebih cepat dan efektif,” harapnya.
Kecelakaan ATR 42-500 ini menambah daftar insiden penerbangan di Indonesia yang dipengaruhi faktor cuaca. Data Kementerian Perhubungan mencatat, sepanjang 2025 terdapat 12 insiden penerbangan terkait cuaca buruk, dengan tiga di antaranya berujung kecelakaan fatal. Hal ini menunjukkan perlunya langkah serius dalam memperkuat sistem keselamatan penerbangan nasional.