BPBD Intensifkan Pemantauan Sungai, Antisipasi Cuaca Ekstrem di Yogyakarta

Periksaan rutin debit air sungai di Kota Yogya
Sumber :
  • Bing Image Creative

YOGYAKARTA, VIVA Jogja   Hujan deras yang belakangan ini kerap mengguyur wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta meningkatkan kewaspadaan. Potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, angin kencang, hingga longsor dinilai bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama di kawasan rawan.

img_title Usung "Lokal Mumpuni, Ngrambah Nagari", HIPMI dan Pemkot Yogyakarta Bersinergi Cetak Pengusaha Muda Tangguh

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto, menegaskan pihaknya kini melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi sungai. Melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop), debit dan ketinggian air di Sungai Gajah Wong, Sungai Code, Sungai Winongo, serta wilayah hulu di Ngentak, Sleman, dipantau secara real-time menggunakan sistem telemetri. “Sejauh ini belum ada kenaikan debit air yang signifikan maupun laporan kondisi luar biasa. Namun hujan masih sering turun dan debit air fluktuatif, sehingga kami tetap siaga penuh,” ujarnya, Jumat (30/1).

Menurut Darmanto, cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini erat kaitannya dengan pembentukan awan hujan cukup tinggi di wilayah Yogyakarta. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan adanya potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang. Kondisi tersebut bisa memicu peningkatan aliran air di sungai-sungai kecil, bahkan menimbulkan genangan lokal akibat sistem drainase yang tidak mampu menampung air hujan dalam waktu singkat.

img_title Pemkot Yogyakarta Gelar Seleksi Beasiswa Prestasi Kelurahan 2026, Nilai TKA dan TKAD Jadi Penentu

BPBD mengingatkan warga bantaran sungai untuk lebih waspada terhadap luapan air, terutama ketika hujan deras turun di wilayah hulu. Selain itu, ancaman angin kencang dan petir juga perlu diantisipasi karena dapat menyebabkan pohon tumbang maupun kerusakan atap rumah. “Potensi talud longsor di kawasan permukiman bantaran sungai juga harus diperhatikan, khususnya jika curah hujan tinggi terjadi berulang kali,” tambah Darmanto.

Sebagai langkah mitigasi, BPBD Kota Yogyakarta telah menyiapkan pemantauan sungai selama 24 jam melalui telemetri di titik-titik strategis. Sistem deteksi dini ini terintegrasi dengan Early Warning System (EWS) yang akan berbunyi ketika kondisi sungai mencapai ambang risiko banjir. Selain itu, koordinasi intensif dilakukan bersama BMKG dan instansi terkait untuk memperbarui informasi cuaca secara berkala.

img_title Festival Jamu Nusantara Dorong Tradisi Minum Herbal Jadi Gaya Hidup Modern

BPBD juga aktif dalam penguatan kesiapsiagaan di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada beberapa periode musim hujan sebelumnya, status siaga bencana hidrometeorologi telah ditetapkan sebagai bentuk antisipasi. Darmanto menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Ia mengimbau warga untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BPBD dan BMKG, mengenali titik rawan di sekitar tempat tinggal, serta menjaga kebersihan saluran drainase dan sungai agar aliran air tidak tersumbat.

Halaman Selanjutnya
img_title