Deflasi Januari Terkendali, Pemkot Yogya Gelar Pasar Murah Antisipasi Inflasi Ramadan
- Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Kota Yogyakarta mencatat deflasi sebesar 0,14 persen pada Januari 2026. Penurunan harga barang dan jasa ini dinilai wajar setelah lonjakan harga pada periode Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta memperkirakan tren harga akan kembali naik menjelang Ramadan dan Idulfitri, sehingga Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan langkah antisipasi berupa pasar murah di 14 kemantren.
Statistisi Ahli Madya BPS Kota Yogyakarta, Fandi Akhmad, menjelaskan bahwa deflasi Januari terutama dipengaruhi oleh turunnya harga komoditas pangan seperti cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah. Namun secara tahunan, Yogyakarta masih mencatat inflasi sebesar 3,55 persen dibanding Januari 2025. “Deflasi ini terkendali dan stabil. Tren penurunan harga terjadi karena sebelumnya, Desember, harga sempat melonjak cukup tinggi,” ujarnya dalam rilis resmi, Senin (02/02/2026).
Fandi menambahkan, inflasi diperkirakan kembali muncul pada pertengahan Februari hingga Maret, seiring meningkatnya permintaan pangan saat puasa dan Lebaran, serta naiknya tarif transportasi. “Pemerintah perlu mengawasi distribusi barang dan stok di pasar agar harga tetap terkendali,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Sri Riswanti, menyebut harga cabai sempat turun drastis hingga Rp45.000 per kilogram, namun kini kembali merangkak naik menjadi sekitar Rp60.000 per kilogram. “Cuaca hujan yang tidak menentu membuat harga cabai rawit kembali naik. Ini yang harus diantisipasi,” katanya.
Selain cabai, komoditas lain seperti beras, gula pasir, dan minyak goreng curah juga mengalami sedikit kenaikan. Namun pemerintah berupaya menjaga kestabilan harga melalui distribusi beras SPHP dan MinyakKita oleh Bulog, serta operasi pasar yang digelar provinsi. Pemkot Yogyakarta juga menyiapkan pasar murah mulai 6 Februari di seluruh kemantren sebagai langkah konkret menjaga daya beli masyarakat.
Wali Kota Yogyakarta bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY sebelumnya telah meninjau langsung harga dan ketersediaan pangan di Pasar Beringharjo. Pemerintah berharap intervensi pasar melalui operasi dan pasar murah dapat menekan gejolak harga, sehingga inflasi menjelang Ramadan tetap terkendali.