Ekonomi DIY 2025 Tumbuh Tertinggi di Jawa, Inflasi Awal 2026 Tetap Stabil
- bing image creator
YOGYAKARTA, VIVA Jogja – Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat capaian impresif sepanjang tahun 2025. Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan IV 2025 mencapai 5,94 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,40 persen. Angka tersebut menempatkan DIY sebagai daerah dengan pertumbuhan tertinggi di Jawa sekaligus melampaui capaian nasional yang berada di level 5,39 persen. Secara keseluruhan, ekonomi DIY sepanjang 2025 tumbuh 5,49 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 5,03 persen.
Kinerja positif ini didorong oleh sejumlah sektor utama. Lapangan usaha konstruksi mencatat pertumbuhan 8,12 persen berkat pembangunan proyek strategis seperti tol Jogja–Solo, tol Jogja–Bawen, gedung DPRD DIY, revitalisasi sekolah, serta peningkatan kualitas jalan. Sektor akomodasi dan makan-minum juga tumbuh pesat, mencapai 7,99 persen, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan pada momentum Natal dan Tahun Baru. Pertanian mencatat pertumbuhan 4,28 persen berkat produksi padi yang meningkat, sementara industri pengolahan naik 3,86 persen, terutama dari subsektor makanan dan minuman yang mengikuti tren permintaan domestik.
Dari sisi permintaan, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 9,36 persen, konsumsi rumah tangga naik 4,89 persen, dan konsumsi pemerintah meningkat 1,47 persen. Pembangunan infrastruktur, kenaikan UMP 2025 sebesar 6,5 persen, serta stimulus belanja sosial pemerintah menjadi faktor utama yang menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi.
Memasuki awal 2026, inflasi DIY tetap terkendali. Badan Pusat Statistik mencatat deflasi bulanan sebesar 0,16 persen pada Januari, sementara inflasi tahunan berada di level 3,30 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional maupun Jawa. Deflasi terutama dipicu penurunan harga cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah, serta kebijakan penurunan harga BBM nonsubsidi sejak 1 Januari 2026. Meski demikian, kenaikan harga emas perhiasan akibat eskalasi geopolitik menahan deflasi lebih dalam.
Bank Indonesia DIY optimistis tren positif akan berlanjut pada 2026 dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Optimisme ini didukung oleh konsumsi masyarakat yang tetap kuat, kenaikan UMP DIY 2026, penguatan interkoneksi wilayah Joglo-Semar, serta peluang ekspor baru melalui perjanjian IEU-CEPA. Namun, BI juga menekankan perlunya kewaspadaan terhadap tantangan global dan domestik. Sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan instansi terkait akan difokuskan pada penguatan konektivitas, promosi pariwisata, diversifikasi produk ekspor, serta pemberian insentif bagi investor.