Pemkot Yogyakarta Hadir untuk Lansia, Dari Home Care hingga Dukungan Usaha
- Pemkot Yogya
VIVA Jogja - Di tepi Sungai Code, Gondokusuman, Yogyakarta, hidup seorang perempuan lanjut usia bernama Sutarmi. Usianya 68 tahun, namun semangatnya tetap menyala meski harus menghadapi kenyataan pahit: tiga anaknya telah tiada, dan sang suami, Subardi (76), lumpuh akibat stroke sejak tiga tahun lalu. Dalam kondisi fisik yang renta, Sutarmi masih berkeliling menjajakan kue buatan tangannya, bertumpu pada tongkat sebagai penopang langkah.
Kisah Sutarmi sampai ke telinga Pemerintah Kota Yogyakarta melalui program Open House Walikota yang rutin digelar setiap Rabu pagi. Dari sanalah perhatian pemerintah mulai mengalir. Berbagai instansi bergerak cepat: Baznas, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Pertanian dan Pangan, serta Dinas Kesehatan turun tangan memberikan bantuan.
Bentuk dukungan yang diterima Sutarmi beragam. Ia memperoleh sembako, layanan home care rutin dari Puskesmas Gondokusuman II, serta pemeriksaan kesehatan gratis bagi dirinya dan suaminya. Baznas juga melakukan asesmen untuk membantu cucu perempuannya, Citra Arisya Dewi Saputri, yang tengah menempuh pendidikan Paket C setara SMA. Harapan Sutarmi sederhana: cucunya bisa menyelesaikan sekolah, bahkan bila mungkin melanjutkan ke perguruan tinggi.
Staf Ahli Bidang Administrasi Umum Pemkot Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko, menegaskan bahwa kunjungan ke rumah Sutarmi merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Wali Kota. Menurutnya, kondisi keluarga tersebut cukup memprihatinkan karena hanya Sutarmi yang bekerja, sementara cucu yang tinggal bersamanya menghadapi keterbatasan ekonomi. Pemerintah pun menyalurkan bantuan melalui program Food Bank Lumbung Mataraman dan Yogyakarta Sejahtera untuk mendukung usaha kecil yang dijalankan Sutarmi.
Wahyu menekankan bahwa layanan home care bukan bantuan sekali datang, melainkan akan dilakukan secara rutin sesuai wilayah kerja puskesmas. Ia juga menegaskan komitmen Pemkot Yogyakarta untuk hadir di tengah masyarakat, terutama bagi warga yang belum tersentuh layanan pemerintah. “Open House menjadi pintu masuk agar kebutuhan warga bisa segera ditemukan dan ditindaklanjuti,” ujarnya.
Di usia senja, Sutarmi tetap melangkah dengan penuh harapan. Dengan kue yang ia jajakan, ia membawa pesan bahwa lansia bukan sekadar penerima belas kasih, melainkan sosok yang tetap berdaya. Kehadiran pemerintah di tengah kisah hidupnya menjadi bukti bahwa di balik kerasnya kehidupan kota, masih ada ruang kepedulian yang nyata.