Lonjakan Harga Pangan Menjelang Ramadan, Akademisi UMY Ingatkan Perlunya Perubahan Sistemik
- Dok Humas Pemda DIY
BANTUL, VIVA Jogja - Menjelang Ramadan, isu kenaikan harga pangan kembali mencuat. Sejumlah komoditas penting seperti cabai, bawang merah, telur, daging ayam, minyak goreng, hingga gula pasir mengalami peningkatan harga yang terasa langsung di kantong masyarakat. Fenomena ini bukan hal baru, melainkan pola tahunan yang hampir selalu berulang.
Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dinda Aslam Nurul Hida, menilai bahwa perubahan pola konsumsi selama Ramadan menjadi faktor utama pemicu lonjakan harga. Aktivitas memasak meningkat, belanja lebih sering dilakukan, dan kebutuhan pangan rumah tangga menjadi lebih beragam. Kondisi tersebut menciptakan lonjakan permintaan yang serentak, atau dalam istilah ekonomi disebut seasonal demand shock.
Menurut Dinda, masalah utama bukan pada permintaan, melainkan pada ketidaksiapan pasokan. Komoditas segar dan produk peternakan memiliki karakter produksi yang tidak bisa ditingkatkan secara cepat. Petani dan peternak membutuhkan waktu dalam proses produksi, sementara distribusi menghadapi kendala logistik. Akibatnya, harga menjadi mekanisme penyesuaian paling cepat di pasar.
Situasi ini semakin terasa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang lebih berperan sebagai wilayah konsumen. DIY bergantung pada pasokan dari daerah lain, sehingga meski pemerintah daerah berupaya menjaga stok, kestabilan harga tetap sulit dipertahankan. Dampaknya paling berat dirasakan oleh kelompok masyarakat rentan, karena inflasi pangan jauh lebih membebani dibanding inflasi nonpangan.
Dinda menilai intervensi pemerintah seperti operasi pasar, pasar murah, dan penguatan cadangan pangan memang sudah berada di jalur yang tepat, tetapi masih bersifat reaktif. Ia menekankan perlunya pembenahan sistemik agar lonjakan harga tidak terus berulang setiap tahun. Perencanaan produksi, distribusi, dan pengelolaan cadangan pangan harus disusun dengan mempertimbangkan periode puncak permintaan seperti Ramadan dan Idul Fitri.
“Ramadan seharusnya diperlakukan sebagai periode permintaan puncak yang permanen dan bisa diprediksi. Artinya, penguatan cadangan pangan daerah, efisiensi rantai pasok, integrasi data produksi dan konsumsi, serta edukasi diversifikasi pangan harus disiapkan jauh sebelum memasuki bulan puasa. Jika sistemnya kuat, lonjakan harga bukan lagi keniscayaan, melainkan risiko yang bisa dikelola,” tegasnya.