Dosen FKIK UMY Ingatkan Risiko Ternak Jadi Pembawa Virus Jika Vaksinasi PMK Tak Rutin

Penerapan vaksinasi pada domba
Sumber :
  • Dok Humas Pemkot Yogya

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali mencuat menjelang Idul Adha. Sebanyak 30 ekor sapi di Kabupaten Ngawi terdeteksi positif PMK pada Selasa (10/02/2026), memicu kembali perhatian terhadap strategi vaksinasi. Meski demikian, vaksinasi PMK tidak dapat disamakan dengan vaksin hewan lain yang diberikan secara rutin, karena sifatnya hanya diterapkan saat terjadi wabah.

img_title Haedar Nashir: Pendidikan Holistik Muhammadiyah Sapen Universal School Jadi Tonggak Transformasi Nasional

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FKIK UMY), Dr. drh. Tri Wulandari K., M.Kes., menjelaskan bahwa vaksin PMK tidak direkomendasikan di wilayah yang bebas kasus. “Vaksinasi PMK dilakukan sebagai respons ketika wabah muncul. Pada kondisi normal tanpa kasus, vaksinasi tidak dianjurkan karena tidak sepenuhnya mencegah infeksi,” terangnya, Rabu (11/02/2026).

Menurutnya, vaksin PMK lebih berfungsi menekan keparahan gejala klinis. Hewan yang divaksin masih bisa terinfeksi, namun gejalanya cenderung ringan atau bahkan tidak tampak. Kondisi ini justru berisiko karena hewan tampak sehat, tetapi berpotensi menjadi pembawa virus bagi ternak lain. “Hewan yang sudah divaksin bisa menjadi karier. Mereka terlihat sehat, namun tetap bisa menularkan virus dan memicu wabah baru,” jelasnya.

img_title Dosen UMY Dampingi Semoyo Wujudkan Desa Wisata Herbal Berkelanjutan

Tri juga menyoroti peran babi sebagai sumber penularan yang sering terabaikan. Virus PMK dapat berkembang dalam tubuh babi dengan konsentrasi tinggi, meski gejalanya tidak mencolok. Jika berada dekat dengan sapi atau hewan rentan lainnya, risiko penyebaran wabah meningkat tajam. Karena itu, strategi pengendalian di wilayah bebas PMK lebih menekankan pada biosekuriti ketat di tingkat peternakan, bukan vaksinasi.

Ia menekankan pentingnya kebersihan kandang, pakan, dan lingkungan sekitar sebagai langkah pencegahan. “PMK disebabkan oleh virus dan hingga kini belum ada obat yang bisa membunuhnya. Imunitas alami hewan menjadi kunci utama. Jika hewan sehat dan lingkungan bersih, daya tahan tubuh akan lebih kuat melawan infeksi,” ujarnya.

img_title Rektor UMY: Kurban Adalah Ketakwaan dan Kepedulian Sosial

Tri mengimbau peternak untuk segera melapor kepada pihak berwenang jika menemukan gejala yang mengarah pada PMK. Deteksi dini dan penanganan cepat dinilai krusial agar wabah tidak meluas. “Peran peternak sangat penting sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan ternak. Konsistensi manajemen kesehatan akan menentukan keberhasilan pengendalian PMK,” pungkasnya.

Halaman Selanjutnya
img_title