PBTY XXI Hadir di Bulan Ramadan, Jogja Teguhkan Kota Toleransi
- Humas Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) kembali digelar untuk ke-21 kalinya pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026 di Kampung Ketandan, Umbulharjo. Tahun ini, festival budaya yang telah menjadi agenda tahunan tersebut hadir dengan nuansa berbeda karena bertepatan dengan bulan Ramadan, sekaligus menghadirkan inovasi panggung utama yang dapat dinaik-turunkan di Jalan Suryatmajan.
Ketua Umum Panitia PBTY XXI, Jimmy Sutanto, Kamis (12/02/2026) menegaskan bahwa PBTY bukan sekadar perayaan Imlek, melainkan wujud nyata semangat toleransi di Yogyakarta. “Momentum Imlek hanya pintu masuk. Substansinya adalah membangun Jogja sebagai City of Tolerance, merangkul semua pihak dalam bingkai persatuan Indonesia,” ujarnya dalam jumpa pers di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kota Yogyakarta.
Festival yang pertama kali digelar pada 2006 ini telah berkembang dari gagasan sederhana menjadi perhelatan budaya lintas komunitas. Wakil Ketua Pelaksana PBTY XXI, Subekti Saputro Wijaya, menyampaikan bahwa rangkaian acara tahun ini berlangsung selama tujuh hari penuh dengan bazar, pameran, pertunjukan seni, hingga karnaval. Salah satu agenda utama adalah Malioboro Imlek Karnaval pada 28 Februari 2026 malam, dengan rute dari Gedung DPRD Kota Yogyakarta hingga Titik Nol Kilometer. “Karena bertepatan dengan Ramadan, kami mulai sejak sore agar bisa menjadi ajang ngabuburit bagi warga,” jelas Subekti.
Inovasi panggung utama menjadi sorotan tahun ini. Jika sebelumnya panggung berada di area parkir Ketandan, kini dipindahkan ke Jalan Suryatmajan dengan desain khusus yang bisa dinaikkan dan diturunkan sesuai kebutuhan. “Dengan konsep ini, arus lalu lintas tetap lancar di siang hari. Baru malam panggung diturunkan untuk acara. Sejauh ini, ini yang pertama di Jogja,” tambahnya.
Panitia juga menghadirkan konsep ngabuburit tematik, mulai dari senam taichi, zumba, lari santai menjelang berbuka, hingga dongeng anak. Takjil akan dibagikan di beberapa titik, termasuk di depan gapura utama Ketandan. Untuk bazar, tersedia 172 stan dengan pemisahan zona halal dan non-halal yang jelas, termasuk penanda khusus dan jam operasional berbeda. Stan halal mulai buka pukul 17.00 WIB, sementara stan non-halal baru beroperasi menjelang waktu berbuka.