Rabu Abu Awali Masa Prapaskah 2026, Paus Leo XIV Ajak Umat Puasa dan Menjaga Kata
- VIVA Jogja/Tahta Suci Vatikan
VIVA Jogja - Rabu Abu pada 18 Februari menandai dimulainya Masa Prapaskah dalam tradisi Gereja Katolik. Selama empat puluh hari ke depan, umat diajak memasuki masa refleksi, doa, dan puasa sebagai persiapan menyambut perayaan Paskah.
Periode ini menjadi momentum penting untuk memperbarui iman, memperdalam relasi dengan Tuhan, serta memperbaiki kehidupan sehari-hari.
Dalam pesan Prapaskah 2026, Paus Leo XIV menekankan bahwa praktik berpuasa dari makanan dapat membebaskan manusia dari rasa puas diri dan menumbuhkan “kelaparan” akan Tuhan.
Ia mendorong umat untuk menghidupkan kembali praktik asketis kuno, yakni berpantang makanan serta menahan diri dari kata-kata yang menyakiti sesama. Menurut Paus, Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk menempatkan misteri Tuhan kembali di pusat kehidupan.
Dengan demikian, umat dapat menemukan pembaruan iman sekaligus menjaga hati agar tidak terjebak kecemasan dan gangguan kehidupan modern. Ia juga menegaskan bahwa puasa bukan hanya tindakan lahiriah, melainkan sarana mengenali kerinduan terdalam manusia.
“Berpantang dari makanan membantu kita memahami apa yang benar-benar kita butuhkan untuk hidup,” tulisnya. Puasa, lanjutnya, membantu mengatur keinginan, menjaga rasa lapar dan haus akan keadilan, serta membebaskan manusia dari sikap nyaman yang berlebihan.
Pesan Prapaskah yang dirilis Vatikan pada 13 Februari berjudul “Mendengarkan dan Berpuasa: Masa Prapaskah sebagai Masa Pertobatan” juga mengutip refleksi Agustinus dari Hippo tentang pentingnya menjaga hati.
Santo Agustinus mengingatkan bahwa dalam perjalanan hidup, umat dipanggil untuk terus lapar dan haus akan keadilan. Paus Leo XIV menegaskan bahwa puasa harus dijalani dalam iman dan kerendahan hati, bukan untuk kesombongan.
Selain berpantang makanan, ia menyoroti bentuk pantang lain yang sering diabaikan, yaitu menahan diri dari kata-kata kasar, fitnah, serta penilaian yang tergesa-gesa.
Ia mengajak umat melucuti bahasa yang menyakitkan dan menumbuhkan kebaikan di keluarga, tempat kerja, media sosial, hingga kehidupan politik. Menurutnya, kesederhanaan hidup menjadi kunci kekuatan iman yang otentik.
Selain itu, Paus mendorong umat untuk memberi ruang bagi Firman Tuhan melalui Misa dan membaca Kitab Suci. Puasa dipandang sebagai cara konkret mempersiapkan hati untuk mendengarkan suara Tuhan dan memperbarui komitmen mengikuti Kristus.