Pemkot Yogya Gelontorkan Rp7,5 Miliar untuk Perkuat Talud Sungai
- Pemkot Yogya
YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam memperkuat infrastruktur pengendali aliran sungai dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp7,5 miliar pada tahun 2026. Dana tersebut difokuskan untuk pembangunan baru, pemeliharaan rutin, serta penanganan insidentil talud di sejumlah titik rawan longsor. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana sekaligus menjaga keselamatan warga yang bermukim di bantaran sungai.
Data teknis yang dirilis Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta menunjukkan, total panjang talud di tiga sungai utama—Code, Winongo, dan Gajah Wong—mencapai 36.156 meter. Dari jumlah tersebut, sekitar 25.040 meter atau 69,26 persen masih dalam kondisi baik, sementara sisanya membutuhkan penanganan bertahap. Kondisi ini menegaskan bahwa sebagian besar talud masih harus diperkuat agar mampu menghadapi intensitas hujan yang semakin tinggi akibat perubahan iklim.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta, Rahmawan Kurniadi, menjelaskan bahwa banyak talud lama masih menggunakan konstruksi pasangan batu kali. Struktur tradisional tersebut dinilai kurang kokoh dibandingkan beton bertulang yang kini menjadi standar pembangunan. “Masih lumayan banyak yang batu kali. Bahkan ada yang belum bertalud. Sekarang kita tingkatkan strukturnya menjadi lebih kuat, dengan pondasi beton ditanam sekitar 1,5 sampai 2 meter di bawah dasar sungai, lalu dindingnya cor beton bertulang,” ujarnya.
Tahun ini, fokus pembangunan diarahkan ke Sungai Winongo melalui dua paket pekerjaan di wilayah Bener dan Pakuncen. Di Bener, sebagian besar kawasan belum memiliki talud permanen sehingga pembangunan dilakukan dari nol. Sementara di Pakuncen, talud lama dari batu kali ditingkatkan menjadi beton bertulang agar lebih tahan terhadap arus deras. Selain itu, penanganan insidentil juga dilakukan di Ngampilan, Baciro, dan Gambiran, menyusul laporan kerusakan akibat hujan deras yang menyebabkan ambrolnya struktur lama.
Rahmawan menambahkan, pemeliharaan rutin tetap dijalankan di tiga sungai besar yang melintasi Kota Yogyakarta. Saat ini, tim teknis tengah menindaklanjuti beberapa titik longsor, termasuk di Notoprajan yang melintasi Sungai Winongo. “Tim kita langsung turun untuk memperkuat struktur yang terdampak sebagai respons cepat terhadap kerusakan tebing. Sementara untuk talud di Baciro dan Prenggan masih dalam tahap perencanaan perbaikan,” jelasnya.