Sosiolog UGM: Demokrasi Kita Perlu Nilai Kemanusiaan

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr Arie Sujito
Sumber :
  • Dok Humas UGM

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Dunia tengah menghadapi tantangan besar yang tidak bisa diabaikan. Konflik geopolitik, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga melemahnya nilai-nilai kemanusiaan menjadi isu global yang berdampak luas. Menurut Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, kondisi ini berisiko melahirkan dehumanisasi akibat dominasi kepentingan ekonomi-politik global. “Dunia tengah menghadapi krisis ekonomi dan perang dengan segala risiko dehumanisasi. Praktik-praktik penghancuran kemanusiaan itu terjadi,” ujarnya dalam Safari Ilmu Bulan Ramadan RDK UGM.

img_title PNIB Tegaskan Negara Harus Hadir Melawan Intoleransi

Arie menegaskan bahwa krisis global turut memengaruhi kondisi nasional. Ia menyoroti melemahnya etika publik, meningkatnya pragmatisme politik, serta menurunnya penghargaan terhadap nilai kemanusiaan. Demokrasi Indonesia, menurutnya, masih menghadapi tantangan serius seperti korupsi, ketimpangan sosial, dan lemahnya tata kelola kebijakan publik. “Demokrasi kita tidak sedang baik-baik saja. Politik hukum kita tidak sedang menjadi model yang dapat diharapkan. Karena itu kita harus memperkuat nilai toleransi, saling menghargai perbedaan, dan membangun tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Teknologi Digital: Peluang dan Tantangan

img_title Civil Society dan Kampus: Menjaga Demokrasi di Tengah Tantangan

Perkembangan teknologi digital menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Di satu sisi, kemajuan teknologi membuka akses pengetahuan, mempercepat komunikasi, dan memperkuat konektivitas. Mahasiswa, kata Arie, memiliki peluang besar untuk memanfaatkan ruang digital sebagai sarana belajar dan berbagi gagasan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa ruang digital berpotensi melahirkan fragmentasi sosial, polarisasi politik, hingga penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. “Kebebasan digital itu harus digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk memperkuat konflik sosial,” ujarnya.

Arie menilai tantangan terbesar generasi muda bukan sekadar menguasai teknologi, melainkan membangun kebajikan warga negara (civic virtue) di tengah derasnya arus informasi. Tanpa landasan etika dan kesadaran sosial, teknologi justru dapat memperdalam jurang perbedaan dan memperkuat sentimen sempit. Ia menekankan pentingnya edukasi, pencegahan, serta pembangunan sistem sosial yang kuat agar generasi muda mampu menjadi agen perubahan. “Yang harus kita lakukan adalah upaya-upaya edukasi, upaya-upaya pencegahan, serta membangun sistem yang kuat,” jelasnya.

img_title RI Rencanakan Pembangunan PLTN, UGM Siap Dukung dari Sisi SDM

Lebih lanjut, Arie menekankan bahwa sumber daya manusia Indonesia harus diposisikan sebagai subjek pembangunan. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan pasar, tetapi juga harus membentuk karakter, kesadaran sosial, serta nilai kemanusiaan. Ia menambahkan bahwa kecerdasan tidak cukup diukur dari capaian akademik semata, melainkan juga integritas dan rekam jejak moral. “Kecerdasan seseorang bukan hanya semata-mata diukur dari angka yang muncul, tetapi adalah karakter jejak di belakang itu,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title