Kota Yogyakarta Raih Apresiasi BRIN, Indeks Daya Saing Daerah Tembus Peringkat Nasional

Apresiasi BRIN untuk Kota Yogya
Sumber :
  • Dok Pemkot Yogya

 

img_title Perguruan Tinggi Dorong Inovasi Energi dari Sampah Organik

 

YOGYAKARTA, VIVA Jogja   Pemerintah Kota Yogyakarta kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Kota ini berhasil meraih sertifikat apresiasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) atas capaian Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, dengan skor 4,42. Pencapaian tersebut menempatkan Yogyakarta di posisi kedua secara nasional, hanya terpaut tipis dari Kota Surakarta yang meraih skor 4,43.

img_title Megawati dan Laut sebagai Jalan Kemandirian Bangsa

Penghargaan diserahkan langsung kepada Honas Firdaus, Kepala Bidang Riset Inovasi Daerah dan Pengendalian Pembangunan Daerah Bappeda Kota Yogyakarta, pada Selasa (24/2/2026) di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta.

Dalam keterangannya, Honas menyebut capaian ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana Kota Yogyakarta mencatat skor 4,39. “Secara nasional, skor rata-rata IDSD provinsi berada pada angka 3,50 dari skala 5. Artinya, capaian Kota Yogyakarta berada jauh di atas rata-rata nasional,” ujarnya.

img_title Menyulam Kedaulatan Maritim Melalui Riset dan Inovasi Biru

Honas menjelaskan bahwa IDSD 2025 disusun berdasarkan data sekunder dari kementerian, lembaga, dan institusi pemerintah daerah. Indeks ini terdiri dari empat komponen utama dengan 12 pilar daya saing.

Komponen pertama adalah lingkungan pendukung, yang mencakup institusi, infrastruktur, adopsi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta stabilitas ekonomi makro. Komponen kedua adalah sumber daya manusia, meliputi kesehatan dan keterampilan. Komponen ketiga adalah pasar, yang mencakup pasar produk, tenaga kerja, sistem keuangan, dan ukuran pasar. Sedangkan komponen keempat adalah ekosistem inovasi, yang mencakup dinamika bisnis dan kapabilitas inovasi.

“Dari skor yang diberikan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta, ada beberapa komponen dan pilar yang mendapatkan skor tertinggi, di antaranya pada pilar adopsi TIK dengan nilai sempurna 5,00, serta nilai sangat kuat pada institusi dan pasar tenaga kerja dengan skor 4,75. Sementara nilai terendah berada pada pilar dinamika bisnis dengan skor 3,36,” jelas Honas.

Menurut Honas, data IDSD menjadi dasar penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pembangunan. Ia menekankan bahwa kelemahan pada pilar dinamika bisnis harus segera diatasi. “Jogja bukan kota industri besar, tetapi kota wisata. Karena itu, penguatan bisnis diarahkan ke sektor pendukung pariwisata,” ungkapnya.

Honas menambahkan bahwa indeks yang baik harus sejalan dengan kondisi nyata masyarakat. Ia berharap pemerintah dapat meningkatkan ekosistem usaha yang diikuti dengan kenaikan indeks pada tahun berikutnya. “Indeks ini bukan sekadar angka, tetapi harus mencerminkan kualitas hidup masyarakat dan daya saing ekonomi daerah,” katanya.

Halaman Selanjutnya
img_title