Pembangunan Jembatan Darurat Donomerto, Akses Warga Kembali Terhubung
- Pemkab Kulonprogo
KULONPROGO, VIVA Jogja – Warga Kalurahan Banguncipto (Kapanewon Sentolo) dan Kalurahan Donomulyo (Kapanewon Nanggulan) Kulonprogo akhirnya bisa kembali bernapas lega setelah akses utama mereka yang sempat terputus kini tersambung kembali melalui jembatan darurat. Jembatan lama yang ambrol beberapa waktu lalu sempat melumpuhkan mobilitas masyarakat, menghambat distribusi hasil pertanian, serta menyulitkan akses menuju sekolah dan fasilitas kesehatan.
Menindaklanjuti kondisi darurat tersebut, Bupati Kulonprogo segera menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) untuk melakukan penanganan cepat. Dalam waktu singkat, DPUPKP bersama warga setempat membangun jembatan darurat menggunakan material kayu hasil bongkaran jembatan darurat sebelumnya di Nglinggan (TPR Trisik). Pemanfaatan material bekas ini menjadi langkah efisien sekaligus mempercepat proses pembangunan.
Pengerjaan jembatan berlangsung selama dua hari penuh. Tahapan konstruksi meliputi pemasangan balok utama sebagai penopang, pemasangan plat lantai jembatan agar jalur dapat dilalui dengan aman, serta pemasangan railing pengaman di sisi kanan dan kiri. Gotong royong warga terlihat jelas dalam proses ini, mulai dari menyiapkan material hingga membantu tenaga lapangan. Semangat kebersamaan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mempercepat penyelesaian proyek.
Kini, jembatan darurat Donomerto sudah bisa digunakan, meski sementara hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua. Pembatasan ini dilakukan demi menjaga keselamatan pengguna, mengingat konstruksi kayu memiliki daya dukung terbatas. Meski demikian, keberadaan jembatan darurat ini sangat berarti bagi warga. Para petani kembali bisa mengangkut hasil panen ke pasar tanpa harus memutar jauh, pelajar dapat menempuh perjalanan ke sekolah dengan lebih singkat, dan akses menuju layanan publik kembali terbuka.
Menurut data DPUPKP, jalur ini sebelumnya dilalui rata-rata 300–400 kendaraan roda dua setiap harinya. Setelah jembatan ambrol, mobilitas warga turun hingga 70 persen. Dengan adanya jembatan darurat, angka mobilitas diperkirakan akan kembali mendekati normal. Dampak positif juga terlihat pada sektor ekonomi. Distribusi hasil pertanian yang sempat terganggu kini kembali lancar, sehingga harga komoditas di pasar lebih stabil.
Masyarakat berharap agar pembangunan jembatan permanen segera direalisasikan. Jembatan permanen dengan konstruksi beton akan memberikan daya dukung lebih kuat dan memungkinkan kendaraan roda empat melintas, sehingga distribusi ekonomi dapat berjalan lebih optimal. Pemerintah daerah sendiri telah memasukkan pembangunan jembatan permanen Donomerto ke dalam program prioritas tahun anggaran mendatang.