Anggito Abimanyu: Perbankan Syariah Butuh Supply Besar untuk Tumbuh Pesat

Prof Anggito Abimanyu
Sumber :
  • jogja.viva.co.id/Cahyo PE

YOGYAKARTA, VIVA Jogja - Perkembangan perbankan syariah di Indonesia kembali menjadi sorotan. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Prof Anggito Abimanyu, menegaskan bahwa agar bank syariah dapat tumbuh pesat, diperlukan dukungan supply yang lebih besar, baik dari sisi modal maupun layanan.

img_title Shafiyah Expo 2026: Sinergi Dakwah, Edukasi, dan Ekonomi Halal di Yogyakarta

Hal tersebut disampaikan Anggito dalam agenda Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah 2026 yang berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Sabtu (28/2/2026). Menurutnya, meski perkembangan bank syariah menunjukkan tren positif, kontribusinya terhadap industri perbankan nasional masih belum ideal.

Saat ini, hanya dua bank syariah yang berkembang signifikan, yakni Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Bank Syariah Nasional (BSN). Anggito mengungkapkan bahwa kontribusi perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional meningkat dari 5 persen pada 2022 menjadi 9 persen pada 2026. “Sudah terjadi kenaikan cukup besar ya kontribusinya,” ujarnya. Namun, ia menilai angka tersebut masih jauh dari target ideal.

img_title UMY Dorong Literasi Keuangan Siswa SMA Lewat Inovasi Flash Card Game

Menurut Anggito, idealnya perbankan syariah mampu menyumbang hingga 20 persen terhadap industri perbankan nasional. “Supaya bank syariah itu bisa lebih berkembang, kontribusinya harus masuk ke angka 20 persen,” tegasnya.

Guru Besar UGM ini menekankan bahwa persoalan utama yang dihadapi perbankan syariah adalah keterbatasan supply. Modal yang kecil membuat bank syariah sulit memberikan layanan optimal. “Kalau modalnya kecil, akan sulit memberikan layanan. Jadi harus ada upaya menambah supply-nya,” jelasnya. Ia mencontohkan merger yang melahirkan BSI dan BSN sebagai langkah anorganik yang mampu memperkuat supply dan mempercepat pertumbuhan.

img_title Beringharjo Great Sale Jadi Motor Digitalisasi Pasar Rakyat Yogyakarta

Anggito menambahkan, jika perbankan syariah hanya mengikuti jalannya pasar, pertumbuhannya akan lambat. Oleh karena itu, diperlukan strategi anorganik seperti merger, konsolidasi, atau dukungan kebijakan pemerintah untuk memperbesar kapasitas. “Kalau hanya mengikuti jalannya pasar, akan lambat. Jadi harus ada cara-cara yang sifatnya anorganik,” katanya.

Selain masalah supply, Anggito juga menyoroti literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih rendah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan syariah tercatat 43,42 persen, sementara inklusi hanya 13,41 persen. Angka tersebut jauh di bawah perbankan konvensional yang mencapai 66,46 persen untuk literasi dan 79,71 persen untuk inklusi.

Halaman Selanjutnya
img_title